Cerita seks Melalui lubang kunci tersebut, suasana kamar Ummu Nida terlihat jelas terutama ranjang tempat tidur Ummu Nida dan suaminya. Di ranjang tersebut, Rif’ah melihat Ummu Nida dan suaminya telanjang bulat tanpa selembar pakaianpun menutupi tubuh mereka berdua. Rif’ah sempat tertegun melihat Ummu Nida dalam keadan telanjang bulat seperti itu. Tubuh ummahat berkulit kuning langsat yang telah beranak tiga tersebut ternyata masih kencang dan terlihat montok dengan sepasang buah dadanya yang besar menggelayut di dadanya. Kemaluan Ummu Nida juga nampak bersih dari bulu-bulu kemaluan seperti kemaluan Rif’ah hanya bedanya bibir kemaluan Ummu Nida telah menggelambir kehitam-hitaman sementara bibir kemaluan Rif’ah terlihat rapat dengan warna kemerah-merahan. Ummu Nida terlihat bernafsu menciumi sekujur tubuh suaminya hingga akhirnya terhenti di bagian kontol Abu Nida. Tubuh Rif’ah gemetar ketika matanya melihat kontol suami Ummu Nida yang tegak mengeras. Kontol suami Ummu Nida itu besar dan panjang dengan otot-ototnya yang terlihat menonjol, dan terlihat sangat kontras dengan tubuh Abu Nida yang kerempeng. Ummu Nida terlihat sangat bernafsu menjilati dan menciumi kontol suaminya tersebut hingga beberapa lama ummahat ini asyik dengan batang kontol suaminya tersebut. Rif’ah yang melihat keasyikan Ummu Nida hanya mampu terengah membayangkan dirinya juga ikut menjilati kontol suami Ummu Nida yang besar itu.
Abu Nida terlihat tersenyum-senyum dan terkadang melenguh keenakan menikmati perbuatan istrinya ntersebut. Ketika Ummu Nida kemudian menggenggam kontol suaminya dan diarahkan ke liang kemaluannya, Abu Nida segera membalikkan tubuh montok Ummu Nida sehingga Abu Nida kini berposisi menindih istrinya. Ummu Nida terpekik manja namun beberapa saat kemudian ummahat ini mendesah ketika kontol besar suaminya mulai menembus liang kemaluannya dan beberapa saat kemudian perempuan yang telah beranak tiga ini merintih-rintih jalang ketika suaminya menyetubuhinya. Rif’ah yang melihat adegan tersebut melalui lubang kunci hanya terengah-engah dengan tubuh panas dingin ketika kontol besar Abu Nida menyodok kemaluan Ummu Nida berulangkali. Rif’ah melihat lubang kemaluan Ummu Nida yang tampak lebar karena telah mengeluarkan 3 anak itu seakan tidak muat dimasuki kontol suaminya. Tubuh montok Ummu Nida tampak terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya sementara kedua payudara ummahat dengan puting susu yang tegak kecoklatan ini tampak dikunyah-kunyah oleh Abu Nida dengan penuh nafsu. Adegan-adegan di ranjang Ummu Nida ini membuat Rif’ah terangsang, jauh lebih terangsang dibanding waktu melihat film porno di warnet sehingga akhwat cantik ini kemudian menggosok-gosokkan kemaluannya sendiri. Rif’ah membayangkan kontol Abu Nida yang besar itu juga menyodok kemaluannya dan kemaluan akhwat PKS ini sendiri telah basah kuyup.
Ummu Nida merintih-rintih kenikmatan dengan tubuh yang terguncang-guncang..
“Ohh…ohhh…ssshh….terusss….enaaaaaak..ahhh”
“Sst…jangan keras-keras …nanti kedengaran Rif’ah……kasihan dia belum nikah”bisik suaminya membuat Ummu Nida tertawa manja.
Wajah Rif’ah memerah mendengar obrolan diantara suara-suara persetubuhan suami istri ini yang membicarakan dirinya. Mendadak ada rasa bersalah yang menyergap Rif’ah yang tengah mengintip aktivitas suami istri ini di kamar sehingga membuat Rif’ah berniat kembali masuk ke kamar. Namun niat itu buyar ketika Rif’ah melihat tubuh Ummu Nida mengejang dan memeluk suaminya erta-erat. Gadis cantik ini melihat Ummu Nida rupanya telah sampai puncak kenikmatannya ..
“Ahhhhh Abiii……Ummi keluarrrr..aaahhhhh..ssshhhh” pekik Ummu Nida sambil memeluk erat suaminya dan melingkarkan kedua pahanya membelit tubuh suaminya dengan pantat yang terangkat tinggi. Rif’ah melihat ekspresi wajah Ummu Nida terlihat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian Rif’ah melihat tubuh ummahat ini lemas..
“Aku belum keluar..sayang”desis Abu Nida yang disambut dengan senyuman lemah istrinya. Rif’ah melihat cukup jelas cairan kenikmatan Ummu Nida keluar dari liang kemaluan yang masih dimasuki kontol suaminya.
“Tutasin aja bi..”desis Ummu Nida kelelahan
Tubuh lemas Ummu Nida kemudian kembali terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya. Cukup lama tubuh montok ummu Nida terguncang-guncang sebelum akhirnyasuami Ummu Nida menggeram lantas memeluk istrinya erat. Laki-laki bertubuh kurus namun berkontol besar itu membenamkan kontolnya dalam-dalam. Tubuh Ummu Nida tersentak ketika suaminya juga mengeluarkan mani dengan bergelombang di dasar kemaluannya. Ummhat inipun balas memeluk suaminya dengan erat.
Kamar yang semula riuh oleh bunyi beradunya dua tubuh yang bersenggama mendadak sunyi. Hanya terdengar dengus nafas keduanya yang masih berpelukan dengan kontol Abu Nida masih tertanam di kemaluan istrinya. Mata Ummu Nida tampak terpejam dnegan senyum tersungging di bibirnya
“Aku mau ke belakang dulu” kata Abu Nida sambil mencabut kontolnya dari liang kemaluan istrinya. Ummu Nida mengangguk sambil memandang mesra suaminya.
Rif’ah yang masih mengintip melalui lubang kunci terkejut mendengar Abu Nida ingin ke WC. Dengan cepat akhwat PKS ini masuk ke kamar tempat dia tidur tanpa menimbulkan suara. Abu Nida ternyata perlu waktu sebelum dia keluar kamar, mungkin dia memakai celana terlebih dulu. Rif’ah yang kini berbaring di pembaringan dalam kamar, mendengar Abu Nida masuk ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian suami Ummu Nida ini kembali masuk ke kamarnya.
“Main lagi yuk..mi…Ummi belum capek khan” terdengar suara Abu Nida mengajak istrinya yang membuat Rif’ah berdebar-debar mendengarnya.
“Ah..abi besok lagi aja….ummi capek ..tadi sore habis senam sih” jawab Ummu Nida beberapa saat.”Ummi khan nggak semuda dulu…bi”
“Ah..ummi khan baru 36 tahun..masih muda”sanggah Abu Nida.
“Capek bi….Ummi janji besok malem lagi…yah”
Abu Nida tidak menyanggah lagi. Terdengar beberapa suara sebelum kemudian suasana kamar suami istri ini akhirnya terdengar sepi bahkan beberapa saat kemudian, terdengar dengkur lirih Abu Nida. Rif’ah yang gelisah berbaring di kamar sebelah itupun tak berapa lama kemudian akhirnya ikut tertidur.
Pagi harinya….
Rif’ah terbangun ketika mendengar pintu kamar diketuk-ketuk cukup keras oleh seseorang.
“Dik Rif’ah…ayo bangun sudah siang..”ujar orang yang mengetuk-etuk pintu yang tak lain adalah Ummu Nida.
“Ya..ya mbak…”jawab Rif’ah meloncat bangun lantas segera menyambar jilbabnya. Di rumah Ummu Nida, Rif’ah memang harus selalu berjilbab jika di luar kamar karena khawatir terlihat suami Ummu Nida, barus etelah Abu Nida pergi ke kantor, Rif’ah baru bebas membuka jilbabnya,
“Kok sampai kesiangan…ayo cepat sana”kata Ummu Nida melihat Rif’ah muncul dari kamar.
“Yaa..yaa..mbak” sahut Rif’ah sambil bergegas ke kamar mandi.
Begitu di kamar mandi, Rif’ah segera mandi mengguyur tubuhnya karena semalam dia telah bermasturbasi.
Ummu Nida yang mendengar suara Rif’ah mandi hanya tersenyum penuh arti.
“Kok mandi dik….mimpi apa yah semalam….kangen sama Faizah ya?”goda Ummu Nida begitu Rif’ah keluar dari kamar mandi.
“Ah..nggak mbak…jijik malah ngebayangin Faizah”sergah Rif’ah
“Makanya nikah…..banyak ikhwan yang mau sama anti kok, atau mau mbak carikan”
Rif’ah hanya tertawa dan segera masuk ke kamarnya kembali.
Tak berapa lama kemudian Rif’ah keluar kamar dengan jilbab lebar dan jubah panjangnya. Akhwat PKS ini segera pergi ke dapur ketika di dengarnya Ummu Nida sibuk di dapur.
Ummu Nida tersenyum melihat Rif’ah muncul di dapur.
“Memang semalam mimpi apa kok sampai basah segala?”todong Ummu Nida membuat Rif’ah tergagap.
“Ah mbak ini….mbak juga pagi-pagi dah mandi” ujar Rif’ah balik menggoda melihat rambut panjang yang dimiliki Ummu Nida tampak basah.
Ummu Nida yang tengah menggoreng telur itu tertawa mendengarnya.
“Wajar dong dik…namanya juga wanita bersuami..anti tahu apa masalah itu”
Rif’ah memandang sekujur tubuh Ummu Nida yang berbalut daster warna hijau nampak kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Rif’ah teringat kembali tubuh bugil Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Tubuh ummahat separuh baya yang berkulit kuning langsat memang montok dan menggiurkan.
“Ngomomg-ngomong umur mbak berapa?”
Ummu Nida menoleh ke arah akhwat cantik ini.
“Emang kenapa?….coba tebak”
“Mbak masih keliatan muda….mungkin 33 tahun”
Ummu Nida tersenyum mendengarnya. Umu Nida terlihat berpikir sesaat
“Tahu Intan Savitri, Izzatul Jannah..cerpenis itu?”
Rif’ah mengangguk. Akhwat PKS mana yang tidak kenal dengan cerpenis kondang tersebut, apalagi Rif’ah satu kota dengannya dan dia memang mengenal cerpenis itu secara pribadi.
“Dia adik angkatan.satu tingkat di kampus”
“Oo…..kalo gitu berarti mbak sekitar 36-37..soalnya setahuku mbak Ije udah 35 th..?”
“Ya sekitar itu…”
“Tapi tubuh mbak masih kencang, sintal…. padahal anak pertama mbak Nida juga sudah 11 tahun, pantesan abinya betah..lagian wajah mbak cantik”
“O’ya…tapi dibandingkan dik Rif’ah masih kalah..ibaratnya mbak dapat nilai 6, dik Rif’ah 8”
“Tapi payudara mbak gede..” sergah Rif’ah sambil memandang dada Ummu Nida yang membusung
“Yah dulu waktu seumur dik Rif’ah..payudara mbak juga segede dik Rif’ah..tapi setelah punya anak jadi bengkak kayak gini, entar kalo dik Rif’ah punya anak juga akan segede mbak”
Rif’ah tertawa mendengarnya.
Ummu Nida menoleh ke arah Rif’ah
“Daripada nganggur, tolong dik Rif’ah.. nasinya diletakkan di meja makan…abinya mau makan dulu nanti baru kita, dia lagi buru-buru”
Rif’ah mengangguk sambil membawa magic jar berisi nasi hangat ke meja makan.
Langkah Rif’ah sempat terhenti ketika dia melihat Abu Nida tampak bermain-main dengan Ayyash, anak mereka yang paling kecil dan baru berumur 2 tahun. Laki-laki ini duduk di kursi yang dekat meja makan sementara Ayyash tampak bermain-main di lantai.
Sedikit gugup, Rif’ah meletakkan magic jar di meja makan. Rif’ah sempat melirik ke arah Abu Nida terutama di bagian selangkangan suami Abu Nida. Terbayang kembali kontol suami Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Namun ketika matanya kemudian memandang wajah pria berbadan kurus ini, Rif’ah kaget ketika ternyata suami Ummu Nida ini tengah memandanginya. Rif’ah menjadi gugup luar biasa dan dengan tergesa-gesa, magic jar itu diletakkan di meja makan dan segera kembali ke dapur.
“Kenapa dik?’tanya Ummu Nida.
“Nggak papa..mbak..ada tikus..bikin kaget” jawab Rif’ah tergagap.
“Oo..” Ummu Nida tersenyum geli.
Rif’ah berusaha menenangkan diri dan meyakinkan diri kalau Abu Nida memandanginya bukan karena perbuatannya semalam. Terbayang kembali kejadian semalam dan dia yakin Abu Nida tidak memergokinya mengintip ke dalam kamar mereka berdua. Rif’ah meyakini bahwa pandangan Abu Nida tadi tak lebih sekedar kekaguman kepada kecantikan wajah yang dimilikinya. Selama ini banyak pria yang betah memandangnya lama-lama bahkan di kalangan ikhwan PKS sendiri dan Rif’ah menganggapnya wajar saja.
Setelah Abu Nida pergi ke kantor, barulah Rif’ah merasa bebas. Seharian di rumah Ummu Nida, Rif’ah hanya sekedar membantu Ummu Nida sebagai ibu rumah tangga. Memang berulangkali kali Faizah menelpon dan sms ke hpnya tapi atas saran Ummu Nida, semuanya tidak usah dilayani. Ummu Nida menyatakan akan membantu Rif’ah menghadapi Faizah dan Rif’ah yakin kalau Ummu Nida akan dapat mengatasi Faizah karena dari yang dipahaminya, kemampuan beladiri Ummu Nida lebih tinggi dari Faizah lebih dari itu Ummu Nida berjanji untuk mengusir Faizah dari tempat kost dan memecatnya dari keanggotan Santika di DPD PKS.
Malam harinya, walaupun sebelumnya seringkali diliputi rasa bersalah, Rif’ah tak mampu menahan diri untuk kembali mengintip aktivitas Ummu Nida dan suaminya di kamar. Bahkan kali ini persetubuhan sepasang suami istri ini lebih hebat dan lebih lama daripada malam kemarin sebagaimana yang dijanjikan Ummu Nida kepada suaminya. Rif’ah hanya mampu gemetaran di depan lubang kunci pintu kamar suami istri tersebut mengintip persetubuhan mereka berdua yang membuat gadis cantik aktivis PKS ini akhirnya bermasturbasi seperti kemarin malam. Namun tidak seperti kemarin malam, kali ini Rif’ah segera mandi seusai masturbasi baru kembali tidur.
“Dik Rif’ah suka mandi malam yah?” tanya Ummu Nida beberapa hari kemudian setelah Rif’ah sering mandi malam seusai masturbasi sambil ngintip ummahat ini bersetubuh dengan suaminya..
“ Enggh…Ya mbak..kebiasaan di kost…biar seger aja” jawab Rif’ah sedikit grogi
Untuk menutupi kegugupannya Rif’ah balik bertanya
“Mbak kok tiap pagi keramas?”.
Ummu Nida terkejut mendengar pertanyaan Rif’ah yang tidak diduganya.
“Nggak tahu tuh abinya…..”jawab Ummu Nida sambil tertawa lepas.
Tak terasa hampir seminggu Rif’ah di rumah Ummu Nida dan hampir tiap malam Rif’ah mengintip aktivitas malam Ummu Nida dan suaminya sehingga membuat akhwat PKS ini sangat hapal betul lekak-lekuk tubuh suami istri ini. Rif’ah juga hafal betul bentuk dan ukuran kontol Abu Nida bahkan gadis ini hafal kalau di pangkal kontol suami Ummu Nida itu terdapat 2 buah tahi lalat yang cukup besar. Rif’ah merasa takjub ketika selama akhwat ini tidur di rumah Ummu Nida, tiap malam suami istri ini bersetubuh dan yang mendebarkan Rif’ah, gadis ini tahu suami Ummu Nida-lah yang selalu meminta bercumbu tiap malam. Aktivitas mengintip suami istri itu ternyata telah menjadi candu tersendiri bagi Rif’ah dan akhirnya membuatnya sering berkhayal disetubuhi Abu Nida karena diam-diam Rif’ah mengagumi keperkasaan Abu Nida menyetubuhi istrinya tiap malam.
Tepat 6 hari Rif’ah berada di rumah Ummu Nida ketika pagi itu Rif’ah diajak bicara oleh Ummu Nida.
“Dik Rif’ah…maaf mbak baru cerita sekarang .kemarin sore Faizah datang ke kantor DPW PKS cari dik Rif’ah…..”
Rif’ah tegang mendengar pembukaan cerita Ummu Nida. Ditatapnya ummahat ini dalam-dalam. Ummu Nida mengibaskan sejenak rambutnya yang basah setelah keramas pagi tadi.
Rif’ah tahu betul kalau semalam Ummu Nida telah disetubuhi suaminya kemudian bekas cupang di leher yang terlihat memerah juga bekas gigitan suaminya., bahkan di balik jubah panjang yang dipakainya pagi ini Rif’ah tahu bahwa payudara, perut dan selangkangan Ummu Nida penuh dengan cupang bekas gigitan suaminya tadi malam.
“Terus mbak….”desak Rif’ah sambil mengusir bayangan cupang di leher Ummu Nida yang membuatnya teringat persetubuhan suami istri yang dilihatnya semalam.
”Mbak ceritakan semuanya. Mbak cerita kalau mbak tahu aktivitas dia dan dik Rif’ah, mbak nasehati agar dia insyaf karena perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak wajar…….”
Rif’ah semakin tegang mendengarnya..
“Faizah marah…dan itu membuat mbak marah…dan mbak katakan mbak akan usir dia dan pecat dia dari Santika DPD dan mbak akan ingatkan kepada seluruh akhwat PKS agar berhati-hati dengan dia, akhwat lesbian…. dia ngajak berantem dan hampir mbak layani untunglah dilerai akhwat-akhwat lainya.”
Rif’ah tertegun melihat wajah Ummu Nida yang tampak memerah, tangannya kini menimang-nimang HP Nokia miliknya.
“Kemudian dia keluar dari kantor DPW PKS tanpa bicara apa-apa…mbak diamkan dan mbak sms minta maaf kalau telah berbuat kasar kepadanya dan mbak uga sms bilang belum ada yang tahu jadi masih ada kesempatan memperbaiki diri….eh dasar kurang ajar anak ini.. dia malah menantang”
“Menantang bagaimana?”
“Anak ini SMS kalau dia menantang mbak bertarung, jika kalah dia bersedia untuk dikeluarkan dari PKS secara tidak hormat dan dia berjanji untuk tidak mengganggu dik Rif’ah lagi….”
“Terus…”.
“Kalau dia yang menang, dia minta jabatan komandan Santika di DPD dan ingin satu kost lagi dan satu kamar dengan dik Rif’ah…”
Rif’ah ternganga mendengarnya. Wajah cantiknya kontan pucat pasi mendengar ucapan Ummu Nida.
“Kalau misalnya dik Rif’ah tidak mau…dia minta wanita pengganti untuk memuaskan nafsunya yang menyimpang”
Wajah Rif’ah sudah pucat pasi dan gadis cantik berjilbab ini hanya tertegun tak mampu berkata apapun. Ummu Nida tersenyum.
“Tapi tenang aja dik…anak itu tidak mungkin menang” tandas Ummu Nida, ”dia khan baru sabuk hijau..masih dua tingkat di bawahku, kalaupun naik paling banter dia sabuk coklat”
“Jadi mbak sudah mengiyakan tantangannya?”
Ummu Nida mengangguk
“Tempatnya nanti di Markas DPD Kota.. dan Ummu Rosyid, komandan Santika DPD yang akan menjadi juri”
Rif’ah mengenal Ummu Rosyid, seorang ummahat PKS mantan menwa saat dia masih kuliah dan suaminya adalah ketua DPD PKS Kota
“Apa hari ini di kantor DPD nggak banyak orang terus apa Ummu Rosyid tahu kesepakatan ini?”
“Tidak dik Rif’ah tahu khan DPD PKS sementara lagi reses jadi para pengurusnya belum pada ngantor dulu…masalah kesepakatan Ummu Rosyid hanya tahu kalau mbak kalah dia akan menyerahkan komandan Santika DPD PKS kepada Faizah”
Rif’ah bergetar. Akhwat berhati lembut ini tak mampu menahan air matanya tumpah. Tak disangkanya persoalannya menjadi rumit.Dipeluknya Ummu Nida dan akhwat ini menangis di pelukan ummahat ini. Akhwat ini merasa bersalah telah merepotkan akhwat di PKS.
“Sudah dik…Mbak juga tidak mau kalah…doakan mbak ya…bentar mau bicara dengan abinya anak-anak” kata Ummu Nida ketika melihat suaminya telah muncul dengan mobil sewaan dan sopirnya. Hari ini mereka berdua berencana menjemput Nida dan Yasmin di rumah neneknya yang berjarak sekitar 60 km dari kota tersebut.
Cerita seks Rif’ah melihat Ummu Nida menghampiri suaminya yang berada di mobil sewaan bersama Ayyash anaknya. Cukup lama suami istri ini berbicara namun Rif’ah tak terlalu memperhatikannya karena pikirannya tegang teringat ucapan Ummu Nida. Suatu hal yang mengerikan kalau dia harus satu kamar dengan Faizah akan terulang lagi. Jika dia tidak bersedia melayani Faizah apakah ada perempuan yang mau menggantikannya. Rif’ah menjadi gelisah namun keyakinannya mantap kalau Ummu Nida akan mudah mengatasi Faizah.
“Pagi ini dik Rif’ah ada acara..?” tanya Ummu Nida membuyarkan lamunan Rif’ah.
Rif’ah terkejut mendengarnya.
“Eh..iyaa mbak…kebetulan ada jadwal ke kampus pagi ini sampai siang atau sore…”jawab Rif’ah ”Mungkin kita bisa berangkat bareng, nanti mbak turun di DPD”
“Jangan, Sebaiknya kita berangkat sendiri-sendiri…repot kalau dia melihat dik Rif’ah” kata Ummu Nida.
“Saya doain mbak…biar mbak menang”
“Pasti itu dik..!’ sahut Ummu Nida mantap sambil mengantar Rif’ah ke teras rumah. Mobil sewaan itu tidak ada lagi, jadi rupanya Ummu Nida minta ditinggal dan biar Abu Nida dan Ayyash yang menjemputnya.
“Mbak berangkat sekarang?”
“Ya..sama Ummu Rosyid”
Selesai Ummu Nida bicara tiba-tiba muncul seorang wanita berjilbab lebar bersepedamotor. Ummu Nida tersenyum melihatnya.
“Itu Ummu Rosyid sudah datang” kata Ummu Nida bergegas masuk ke rumah mengambil segala hal yang diperlukan.
Rif’ah menyalami Ummu Rosyid berpelukan dan saling menempelkan pipi.Akhwat PKS ini sempat berbincang sejenak dengan Ummu Rosyid sampai Ummu Nida keluar dari rumahnya. Ummu Nida sempat berbincang dengan Ummu Rosyid sebentar sebelum dia naik ke boncengan motornya.
“Hati-hati ya mbak…”kata Rif’ah ketika akhirnya kedua ummahat itu meninggalkan Rif’ah. Rif’ahpun segera menyalakan motornya dan kemudian meluncur ke jalan raya dengan arah yang berlawanan dengan arah yang ditempuh Ummu Rosyid dan Ummu Nida.
Rif’ah keluar dari kampusnya. Gadis cantik berjilbab ini sempat
gelisah ketika dia menghubungi HP Ummu Nida ternyata HP tersebut tidak
aktif namun kemudian dia baru ingat kalau nomor HP Ummu Nida ada dua
yang sayangnya nomor satunya dia tidak punya. Tiba-tiba Rif’ah pun
teringat Abu Nida dan seingatnya dia sempat menyimpan nomor HP suami
Ummu Nida ini. Nomor HP suami Ummu Nida terekam di HP miliknya ketika
beberap waktu lalau, Ummu Nida meminjam HPnya untuk mengontak suaminya.
Begitu nomor HP Abu Nida diketemukannya, Rif’ah pun segera menulis SMS
menanyakan nomor HP Ummu Nida yang satunya kepada Abu Nida.
Semenit kemudian datang balasan dari Abu Nida yang kini berada di tempat mertuanya untuk menjemput Nida dan Yasmin. Tapi balasan sms itu membuat Rif’ah terkejut luar biasa.
Dengan dahi berkerenyit dan tubuh gemetar dibacanya sms balasan dari suami Ummu Nida ini.
“Oh..ini ukhti Rif’ah ya?baru tahu nomernya…gimana? kerasan khan tinggal di rumah…tiap malam liat live sex “
Dengan tangan gemetar Rif’ah mereplay
“Maksud Abu Nida apa?”
Sesaat kemudian datang balasan dari Abu Nida
“Tiap malam aku main dengan istriku, aku lihat ada jemari kaki yang indah melalui bawah pintu kamar dan aku yakin itu bukan jemari tikus atau kucing dan bukankah ukhti Rif’ah kehilangan pin jilbab berlogo PKS di depan pintu kamar kami?”
Jantung Rif’ah serasa berhenti berdetak membaca sms dari suami Ummu Nida ini. Rif’ah memang sempat kehilangan pin jilbab berlogo PKS pada suatu malam, dan esok paginya dicari-cari tidak ketemu.
Rif’ah tidak membalas sms tersebut, ternyata sms dari Abu Nida berlanjut.
“Sebenarnya jadwalku bersenggama dengan istriku dua kali seminggu…tapi karena aku tahu ada seorang gadis cantik yang menonton….aku jadi bersemangat menambahnya..”
Tubuh Rif’ah menjadi lemas sementara wajahnya memerah membaca sms-sms tersebut. Bahkan kemudian datang mms berupa foto yang ketika dibuka membuat Rif’ah terpekik lirih.
Dalam foto tersebut tampak jelas gambar dia sedang mengintip melalui lubang pintu kamar mereka walaupun suasana agak remang-remang. Agaknya diam-diam Abu Nida merekam aktivitasnya mengintipnya bersama istrinya. Kalau dilihat dari fotonya, Rif’ah menduga kamera atau HP tersebut di letakkan di atas komputer di rumah tersebut.
Rif’ah tak bisa berkata apa-apa dan tubuhnya menjadi sangat lemas tak bertenaga. Belum hilang keterkejutannya tiba-tiba Abu Nida menelpon. Rif’ah sempat beberapa lama tak berani mengangkatnya namun kemudian dengan dada berdebar kencang, akhwat cantik ini pun mengangkat telepon.
“Rif’ah?” terdengar suara di seberang yang dikenal baik sebagai suara Abu Nida.
“Iyy..Ya..”jawab Rif’ah tergagap.
“Saya punya rekaman film Rif’ah mengintip saya dan istri dan istri saya belum tahu….”
“Terus..?”
“Kalau ukhti berpandangan nggak disampaikan ke istri nanti aku kasih tahu dia”
“Jangan!” sergah Rif’ah seketika
“Aku juga punya rekaman ukhti Rif’ah di kamar mandi.. terpaksa aku buat karena anti lebih dulu melihat tubuh bugil kami.. cuman sayang gambarnya tidak terlalu jelas.”
Tubuh Rif’ah kejang mendengarnya
“Tapi tenang aja..tidak akan jatuh ke orang lain jadi tidak perlu khawatir akan tersebar di internet”
Rif’ah gemetar memegang handphonenya.
“Abu Nida mau memerasku.?” tanya Rif’ah terbata-bata
“Tidak…aku lihat ukhti sangat cantik…Jujur aku tertarik dan aku lihat anti sering curi-curi pandang ke arahku jadi sebenarnya kita sama-sama tertarik khan…..aku butuh istri kedua…Ummu Nida sudah mulai tidak bergairah…Aku ingin anti menjadi istriku…kita kawin di bawah tangan”
Wajah Rif’ah merah padam mendengarnya. Akhwat PKS ini menggigit bibirnya kuat-kuat Akhwat PKS ini tidak menyangka akan menghadapi masalah serumit ini.
“Gimana ukhti….secepatnya ana tunggu jawaban anti! Anti harus mau!”
Rif’ah terpaku tak menjawab apapun.
Di mata Rif’ah, Abu Nida cukup tampan walaupun telah berusia 40 tahun menurut pengakuan Ummu Nida dan yang paling mendebarkan jantungnya, alat vitalnya berukuran istimewa sehingga membuatnya sering mengkhayalkan laki-laki ini menyetubuhinya. Tapi untuk menjadi istri kedua dan kawin di bawah tangan adalah sebuah pilihan yang berat.
“Baik dua hari lagi aku kontak lagi…untuk memastikan anti mau”ujar Abu Nida mengakhiri telponnya.
Rif’ah termangu-mangu. Tubuh akhwat PKS cantik ini menjadi lemas dan akhirnya hanya duduk termenung di bangku taman kampusnya. Untuk kembali ke rumah Ummu Nida sebuah hal yang tidak mungkin setelah mendapat telpon dari Abu Nida seperti itu. Kmebali ke kostnya yang dulu, ada Faizah. Senja mulai membayang
Sementara itu di saat yang bersamaan itu di kantor DPD PKS Kota, tiga perempuan berjilbab lebar terlihat duduk di ruang tamu. Tiga teh botol yang hampir kosong terletak di depan mereka masing-masing. Sudah hampir satu jam ketiganya berbincang di ruang itu bahkan sempat makan siang. Ketika perempuan itu tak lain adalah Ummu Rosyid, Ummu Nida serta Faizah. Dari ketiga perempuan itu yang paling banyak diam adalah Ummu Nida bahkan wajah ummahat beranak tiga ini tampak pucat.
“Jadi mulai hari ini komandan Santika dipegang dik Faizah” ujar Ummu Rosyid.
Faizah yang siang ini memakai jilbab warna hijau mengangguk-angguk sembari tersenyum senang mendengarnya.
“Bukankah begitu Um?”tanya Ummu Rosyid kepada Ummu Nida yang berwajah paling cantik ini diantara ketiganya namun wajah cantik itu terlihat pucat.
Ummu Nida yang banyak termenung itu mengangguk lemah. Sekilas Ummu Nida melirik Faizah namun kemudian dia memalingkan wajahnya ketika melihat Faizah juga tengah memandangnya. Ummahat penyandang sabuk hitam ini masih belum percaya kalau dia kalah dari Faizah. Tapi memang di luar dugaan, kemampuan bela diri Faizah ternyata berada di atasnya. Walaupun dalam karate Faizah cuma sebagai penyandang sabuk hijau, namun akhwat hitam manis ini ternyata menguasai beberapa ilmu beladiri lainnya sehingga membuatnya begitu perkasa. Selain itu usianya juga jauh lebih muda dibanding Ummu Nida yang sering kehabisan nafas dan satu faktor kekalahannya adalah selama seminggu ini dia kehabisan tenaga disetubuhi suaminya berturut-turut tiap malam.
“Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu ada acara…nanti mohon Ummu Nida menyampaikan kepada DPW tentang pergantian ini, untuk DPD biar saya sampaikan langsung kepada suami..jadi Ummmu Nida nanti pulang sama Faizah” kata Ummu Rosyid yang kebetulan suaminya adalah ketua DPD.
Ummu Nida kembali mengangguk lemah. Ummahat tiga anak ini berdiri ketika Ummu Rosyid berdiri pamit pulang namun ketika hendak menyalami Ummu Rosyid, Faizah pun berdiri ikut menyalami Ummu Rosyid membuat Ummu Nida mengurungkan niatnya. Faizah terlihat menyalami Ummu Rosyid saling menempelkan pipi dan kemudian berpelukan. Ketika berpelukan itu tangan Faizah sempat meremas pantat Ummu Rosyid yang kebetulan memang montok.
“Ih..anti ini kebiasaaan…remas pantat orang sembarangan!”ujar Ummu Rosyid
Faizah tertawa namun Ummu Nida yang melihat kejadian ini segera membuang muka.
Ketika Ummu Rosyid menyalami Ummu Nida, Ummu Nidapun berdiri bahkan kemudian mengantar Ummu Rosyid hingga ke pintu.
“Faizah itu berbahaya buat akhwat PKS” desis Ummu Nida.
“Kenapa?” tanya Ummu Rosyid
Ummu Nida hendak menjawabnya namun tiba-tiba Faizah telah berdiri di belakangnya membuat Ummu Nida terdiam.
“Ya sudah pamit dulu” ujar Ummu Rosyid berpamitan.
Kedua perempuan berjilbab lebar ini hanya memandangi Ummu Rosyid meninggalkan halaman DPD PKS.
“ Mbak bilang apa sama Ummu Rosyid?”tanya Faizah
“Nggak bilang apa-apa” jawab Ummu Nida dan ummahat beranak tiga ini tersentak ketika kemudian Faizah memeluknya dari belakang.
“Faizah….Faizah apa nggak sadar kalau perbuatan kamu itu nista dan nggak wajar”
“Sudahlah..nggak usah berkhutbah…mbak telah berjanji menjadi pengganti Rif’ah kalau mbak kalah….”desis Faizah dengan tangan menyusuri pantat Ummu Nida yang masih berbalut jubah panjang tersebut.
“Pantat yang bahenol…mbak lebih montok dan menggairahkan dibanding Rif’ah” kata Faizah sambil meremas-remas pantat Ummu Nida yang memang montok dan kenyal tersebut.
”Aku suka bau keringat mbak….Rif’ah terlalu wangi membosankan walaupun gadis itu sangat cantik dan bertubuh sintal, tapi mbak montok dan payuadar mbak gede”
Tiba-tiba Ummu Nida merasa curiga kalau Faizah bukan perempuan tapi dia adalah laki-laki yang menyusup di barisan akhwat PKS. Dalam keadaan dipeluk Faizah dari belakang, salah satu tangan Ummu Nida membekap selangkangan Faizah.
Faizah terkejut dengan perbuatan Ummu Nida namun sesaat kemudian akhwat hitam manis ini tertawa panjang.
“Tenang mbak….aku bukan laki-laki yang menyamar, kalau pengen lihat..ayo ke kamar” ujar Faizah sambil menarik Ummu Nida ke salah satu kamar di kantor DPD PKS kota. Kamar tersebut adalah salah satu kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istrirahat personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan bantal guling serta satu set meja dan kursi.
Dalam kamar itu, Ummu Nida duduk di kursi memandang Faizah yang berdiri di depannya.
“Sekarang mbak yang montok, liat baik-baik..apakah aku punya kontol atau tidak”kata Faizah sambil tersenyum.
Cerita seks Pertama kali Faizah melepas sepasang kaus kaki yang membungkus kedua kakinya kemudian disusul jilbab lebar warna hijau yang dipakainya hingga terlihat rambutnya yang dipotong pendek seperti polwan. Ummu Nida tercekat melihat Faizah berpotongan rambut cepak karena baru pertama kali ini melihat Faizah tanpa jilbab.
Setelah itu Faizah melepas jubah panjang warna coklat yang dipakainya sehingga Faizah kini hanya terlihat memakai bh warna hitam sementara bagian bawahnya memakai celana training warna coklat gelap. Ummu Nida melihat Faizah adalah seorang akhwat yang berotot bahkan payudaranya pun tergolong kecil.
Tanpa memperdulikan pandangan Ummu Nida, Faizah melepas BH yang membungkus buah dadanya kemudian celana training yang menutup bagian bawah tubuhnya.. Ummu Nida terkejut ketika melihat Faizah ternyata tidak memakai celana dalam sehingga ketika celana training itu terlepas dari tubuhnya, tubuh Faizahpun bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya.
“Gimana mbak?…aku nggak punya penis khan”
Ummu Nida terdiam, ummahat tiga anak ini ternganga melihat tubuh Faizah bugil di depannya saat ini.Baru pertamakali ini Ummu Nida melihat Faizah dalam keadaan bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya seperti saat ini.
Tubuh akhwat PKS yang satu ini memang terlihat perkasa apalagi kulitnya yang kecoklatan mengesankan keperkasaannya, walaupun di dadanya tumbuh sepasang payudara berukuran 32 dengan puting susu coklat gelap serta kemaluannya adalah kemaluan wanita. Satu hal yang tak diduga Ummu Nida, ternyata Faizah mempunyai kemaluan dengan rambut yang lebat sehingga sebagian kemaluan Faizah yang cukup montok membukit itu tertutupi oleh lebatnya rambut kemaluannya.
Ummu Nida tidak sempat berpikir lama karena kemudian Faizah yang bugil ini menariknya untuk berdiri lantas memeluknya
“Ayo mbak…mbak juga buka seluruh pakaian mbak” desis Faizah.
Tubuh Ummu Nida mengejang ketika dengan bernafsu Faizah melumat bibirnya sementara tangannya mulai menggerayangi dadanya di balik jilbabnya mencari kancing jubah.
Tanpa di duga keduanya tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman kantor DPD PKS kota itu. Faizah yang terkejut melepaskan pelukannya kepada Ummu Nida.
“Siapa sih…ngganggu aja!!”umpat Faizah kesal yang lantas dengan tergesa-gesa gadis ini memakai jilbab dan jubahnya tanpa memakai apapun di baliknya.
Ummu Nida pun sejenak merapikan diri ketika di dengarnya ketukan dan salam di pintu.
“Mbak masih hutang sama aku..!” desis Faizah kesal.
Ternyata yang datang adalah Mufidah bersama suami dan kedua anaknya. Ummu Nida dan Faizah menyambut Kabid Kewanitaan DPD yang baru ini. Ummu Nida menyalami Mufidah dengan hangat dan memeluknya sembari menempelkan kedua pipinya. Faizah berbuat yang sama hanya ketika memluknya, tangan Faizah sempat mermas pantat montok Mufidah yang membuat ummahat ini tersentak kaget. Faizah tersenyum. Kekesalannya sedikt terobati karena yang datang adalah seoarang ummahat yang cantik yang dikenalnya sebgai Kabid Kewanitaan DPD menggantikan Ummu Nida yangs ekarang duduk di DPW.
“Saya nyari Ummu Nida….di rumah kosong….terus tadi ketemu Ummu Rosyid katanya Ummu Nida di kantor DPD… ya sudah saya kesini”
Ummu Nida pun tersenyum , wajah ummhata ini tampak leg dan cerah melihat kedatangan Mufidah. Kedua ummahat inipun masuk ke ruangan bagian kewanitaan meninggalkan Faizah sendirian..
“Sebentar ya ukht…”ujar Mufidah.
Faizah mengangguk sedikit kesal. Melihat Mufidah, timbul hasrat kepada ummahat yang satu ini. Faizah berencana untuk bisa menikmati tubuhnya suatu saat nanti.
Untuk mengusir kekesalannya, Faizah pergi ke teras mencari udara segar. Dilihatnya sebuah Corolla lama terparkir dengan suami Mufidah di dalamnya bersama kedua anaknya yanga agaknya tertidur pulas. Faizah kemudian duduk di lantai teras yang bersih itu sambil membaca sebuah buku.
Dalam corolla merah itu, suami Mufidah melihat seorang akhwat tampak keluar dari kantor DPD PKS lantas duduk di teras. Wajah akhwat itu manis dengan kulit yang kecoklatan dan tubuh yang montok. Melihat wajah akhwat tersebut, suami Mufidah rasanya pernah mengenalnya. Diperhatikannya baik-baik wajah tersebut dan suami Mufidah ini merasa yakin dia mengenal akhwat ini atau mungkin mirip dengan seoarang yanmg dikenalnya.
Faizah yang melihat suami Mufidah ini tengah memperhatikannya tiba-tiba timbul keinginan akhwat ini untuk menggoda suami Mufidah. Dengan tetap membaca buku, kedua lutut Faizah diangkat sehingga dengan posisi seperti ini, Faizah yakin bagian bawah tubuhnya yang siang ini memaki jubah panjang akan terbuka dan terlihat oleh suami Mufidah.
Memang betul dugaan Faizah karena memang suami Mufidah yang bernama Syamsul ini tengah terkejut ketika dia melihat akhwat yang tengah diperhatikannya itu tiba-tiba merubah posisi duduknya. Dalam posisi duduk seperti itu, terlihat jelas bagian bawah tubuh akhwat tersebut terbuka sehingga Syamsul leluasa melihat betis, paha bahkan selangkangan akhwat tersebut.
Dada Syamsul berdegup kencang ketika melihat akhwat tersebut ternyata tidak memakai celana dalam dan laki-laki ini melihat akhwat tersebut mempunyai bulu-bulu kemlauan yang lebat. Dalam sekejap kontol suami Mufidah ini mengeras melihat selangkangan Faizah yang menggiurkan. Syamsul tidak tahu bahwa Faizah memang sengaja memamerkan bagian tubuhnya yang paling rahasia itu kepada dirinya.
Keasyikan Syamsul hilang ketika dia melihat istrinya keluar dari kantor DPD PKS bersama seorang perempuan berjilbab lebar yang berwajah cantik. Syamsul melihat istrinya melambaikan tangan memanggilnya. Syamsul keluar dari mobil setelah melihat kedua anaknya masih tertidur pulas dalam mobil.
Syamsul menghampir para perempuan berjilbab lebar ini. Faizah yang semula duduk di teraspun kini berdiri. Begitu Syamsul mendekat, giliran Faizah yang terkejut melihat suami Mufidah ini.
“Bang Syamsul!” desis Faizah di sela keterkejutannya.
Syamsul yang mendengar namanya disebut memperhatikan Faizah lebih seksama dan bebrepa detik kemudian laki-laki ini terkejut pula.
“Femmy??”tanya Syamsul agak ragu.
Faizah mengangguk. Femmy adalah nama aslinya
“Lho abang sudah kenal dengan akhwat ini?”sergah Mufidah dengan nada cemburu.
Syamsul mengangguk
“Dia adiknya Hendrik yang sering ke rumah kita dan kita punya hutang kepada Hendrik”
“Ya..dan bang Syamsul punya hutang 25 juta kepada bang Hendrik. Minggu ini dia akan datang ke kota ini, dia sudah beli rumah di sini” timpal Faizah
Giliran Mufidah yang terkejut mendengarnya. Wajah cantik ummahat berusia 32 tahun ini tegang dan tubuhnya gemetar. Bukan karena jumlah hutang yang disebut Faizah, tapi nama Hendrik yang membuat tubuh ummahat ini gemetar.
Bagi Mufidah, Hendrik yang dimaksud bukanlah laki-laki yang asing baginya. Selama di Jakarta sudah dua kali laki-laki ini memperkosanya ketika suaminya tidak ada di rumah. Yang membuat Mufidah gelisah karena walaupun dia diperkosa, tapi Hendrik mampu membuatnya menikmati perkosaan tersebut. Mufidah mendesak suaminya pindah ke kota ini untuk menghindar dari Hendrik tapi ternyata laki-laki yang dihindari Mufidah akhirnya muncul juga di kota ini. Suaminya memang belum tahu perkosaan yang menimpanya
“Bang Hendrik memang sedang memburu kalian!”ujar Faizah pendek membuat Syamsul dan istrinya tegang.
“Kapan dia datang? Begitu dia datang akan kami lunasi hutangnya”ujar Syamsul
“Lusa..dan dia sudah aku kasih tahu alamat rumah kalian”
Mufidah gelisah mendengarnya. Teringat kembali ucapan Hendrik kalau dia ketagihan memperkosanya dan dia akan memburu kemanapun Mufidah pergi.
“Ya sudah..aku pamit dulu…tapi Ummu Nida masih punya hutang sama aku…..buat Bang Syamsul bayar aja hutangnya…..yang tadi gratis aja” ujar Faizah sambil tersenyum menggoda.
Syamsul tergagap mendengarnya, sementara Ummu Nida diam tak berkomentar apapun.
Faizah teringat ucapan bang Hendrik kalau dia tergila-gila dengan istri Syamsul dan ternyata memang pantas istri Syamsul membuat abangnya tergila-gila walaupun abangnya telah mempunyai istri. Namun dirinya agaknya juga mulai tergila-gila dengan Mufidah yang berkulit putih mulus itu. Sambil melamunkan Mufidah, Faizah menstarter sepeda motornya meninggalkan halaman DPD PKS kota.
Di mata Faizah, Mufidah mempunyai nilai tengah-tengah diantara Rif’ah dan Ummu Nida. Dari ketiganya yang paling cantik adalah Rif’ah namun yang paling putih kulitnya adalah Mufidah sedangkan tubuh yang paling montok adalah Ummu Nida. Dari ketiga perempuan itu yang baru dinikmati baru Rif’ah sedangkan Ummu Nida nyaris dinikmatinya malam ini dan Mufidah yang berkulit putih itu kini dalam targetnya.
Mendadak Faizah teringat abangnya yang akan datang lusa. Di benak Faizah timbul rencana untuk bekerja sama agar sama-sama menikmati ketiga tubuh wanita PKS yang molek dan menggiurkan itu. Faizah yakin abangnya juga akan tergila-gila bila disodori Ummu Nida yang bertubuh montok dan berkulit kuning langsat serta berwajah cukup cantik ataupun Rif’ah yang berwajah sangat cantik, sintal dan masih perawan. Faizah tersenyum membayangkan semuanya. Selama dia bergabung dengan PKS baru ketiga perempuan inilah yang membangkitkan nafsunya
Setelah tau Faizah masih tetap di PKS, Rif’ah ketakutan sekali. Terpaksa dia untuk sementara pergi dari tempat kosnya dan tinggal bersama Ummu Nida dan suaminya. Malam itu Ummu Nida merasa mengantuk berat. Dia ingin segera tidur, ini membuat Abu Nida suaminya merasa gembira sebab usahanya berhasil. Abu Nida memang telah memasukkan obat tidur cukup banyak dalam minuman istrinya secara diam-diam. Kalau istrinya sudah tidur dia akan bebas menggarap Rif’ah, akhwat cantik yang sudah lama dia inginkan. Sesudah istrinya tidur nyenyak, Abu Nida mengetuk pintu kamar tidur Rif’ah. Rif’ah sudah menduga bahwa yang mengetuk pintu kamar malam-malam begini tentu Abu Nida. Dengan rasa takut dan ingin tahu Rif’ah membuka pintu. Begitu pintu terbuka AbuNida bertanya,”Belum tidur,Rif’ah?” Jawab Rf’ah,”Belum, Bi.”
“Boleh masuk?” desak Abu NIda. Rif’ah keberatan dan berusaha menolak,”Jangan,Bi ntar Ummu tau gimana?” Jawab Abu Nida, “Ah, nggak bakalan tau dia kan sudah tidur!” Karena Rif’ah mau menolak, akhirnya Abu Nida memaksa masuk kamar dan segera mengunci pintu. Tinggallah mereka berdua dalam kamar, sementara Rif’ah masih memakai jilbab dan jubahnya. Rif’ah ketakutan meskipun dia juga sebenarnya senang sudah berdua dengan Abu Nida. Tanpa basa-basi lagi Abu Nida memeluk tubuh Rif’ah yang sintal itu dari depan dan mendaratkan ciuman-ciuman di bibir merah Rif’ah. Rif’ah menggeliat merasakan ciuman-ciuman bibir Abu Nida yang berkumis dan berjenggot lebat itu. Karena terangsang Rif’ah mulai membalas dengan ciuman yang tak kalah agresif.
Tangan Abu Nida mulai meraba tetek Rif’ah dari luar jubah dan jilbabnya. “Jangan Bi, nggak mau”, R1f’ah mencoba menolak. Tapi Abu Nida tidak peduli, bahkan tangannya mulai menyusup di balik jubah dan BH Rif’ah. “Oouuh!”, Rif’ah menjerit, baru kali ini teteknya dipegang tangan lelaki. Abu Nida mulai membuka kancing-kancing jubah Rif’ah, kali ini Rif’ah tidak melawan, rupanya dia juga sudah terangsang berat. Abu Nida mulai mengisap dan menyedot tetek Rif’ah yang masih kencang dan keras itu. Rif’ah mulai mengerang-ngerang tak menentu dan pasrah dengan segala yang dilakukan Abu Nida meski sebelumnya dia menolak mati-matian.
Abu Nida menyingkap jubah Rif’ah dan meraba-raba memek Rif’ah yang mulai basah itu. Rf’ah mencoba menolak tangan Abu Nida,”Jangan Mas, Rif’ah nggak mau.” Entah mengapa Rif’ah mulai memanggil mas kepada Abu Nida. “Nggak apa-apa, ntar juga enak.” kata Abu Nida tanpa peduli atas penolakan Rif’ah. Lalu Abu Nida melorot celana dalam Rif’ah dan menjilat-jilat memek Rif’ah yang masih perawan itu. Rif’ah malu sekali karena memeknya selama ini sangat dijaganya dari lelaki. Abu Nida mulai memain-mainkan lidahnya di memek Rif’ah. Mendapat perlakuan itu Rif’ah merasa jijik. Tapi rangsangan yang kuat membuatnya tidak tahan mulutnya menjerit-jerit tak karuan. “Ooouuuh, Mass, enaak Mass, terusin aja!” Akhirnya keluarlah cairan dari memek Rf’ah. Rif’ah orgasme.
Kesempatan ini tak disia-siakan Abu Nida. Dia bangun dan mengarahkan kontolnya ke memek Rif’ah yang basah itu. Rif’ah mencoba menghindar, tapi karena badannya lemas akibat orgasme tadi, Rf’ah tak berdaya. Abu Nida mulai menusukkan batangnya yang besar dan panjang itu ke memek Rif’ah. Beberapa kali Abu Nida mendorong tapi kontolnya tidak bisa masuk. Memek Rif’ah benar-benar ketat. Akhrinya Abu Nida membuka paha Rif’ah yang berjubah itu selebar-lebarnya dan menusukkan kontolnya dengan keras. Rif’ah menjerit kesakitan, “Ahhh, sakit mass, pelan-pelan dong…..sshhhh… aaaahhh.” Kepala kontol Abu Nida dapat menembus memek Rif’ah, Abu Nida terus mendorong hingga batang kemaluannya dapat masuk semuanya ke memek Rf’ah. Abu Nida mengocok-ngocok kontolnya maju mundur di memek Rfi’ah. Mula-mula Rif’ah masih merasa sakit tapi lama-lama mulai keenakan dan mengimbangi gerakan dan goyangan Abu Nida. Akhirnya sesudah 1/2 jam Rif’ah menjerit karena memeknya yang berdenyut-denyut itu mulai mengeluarkan cairan orgasmenya. “Masss, aku keluar masss!!!” jerit Rf’ah dengan penuh nafsu memeluk Abu Nida. Abu Nida pun mulai nggak tahan dan memeluk tubuh Rif’ah yang sintal dan padat itu erat-erat. Tubuh Abu Nida mengejang dan menyemburkan air maninya ke rahim Rif’ah. Lalu keduanya terbaring lemas kehabisan tenaga.
“Makasih ya Rif’ah!” kata Abi Nida. Rif’ah tidak menjawab, air mata menetes di pipinya. Perawannya direnggut oleh ikhwan seiornya sendiri. Sejak itu kapan saja Abu Nida mau, Rif’ah harus bersedia dientot. Kalau tidak adegan tadi yang secara diam-diam sudah direkam Abu Nida akan disebar luaska. Ah, kasihan Rif’ah
Cerita seks Sejak itu Rif’ah tidak bisa lagi melepaskan diri dari Abu Nida, selain diancam akan diedarkannya rekaman-rekaman bugilnya Rif’ah sendiri memang ketagihan untuk ngentot dengan Abu Nida. Tapi rupanya ada juga orang-orang lain yang sedang mengincar Rif’ah, akhwat muda yang cantik ini. Salah satunya adalah Mas Syamsul, suami Mufidah dan juga Hendrik, abangnya Faizah alias Femmy itu.
www.ceritasexsualpanas.blogspot.com – Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Mesum Ngentot –
Semenit kemudian datang balasan dari Abu Nida yang kini berada di tempat mertuanya untuk menjemput Nida dan Yasmin. Tapi balasan sms itu membuat Rif’ah terkejut luar biasa.
Dengan dahi berkerenyit dan tubuh gemetar dibacanya sms balasan dari suami Ummu Nida ini.
“Oh..ini ukhti Rif’ah ya?baru tahu nomernya…gimana? kerasan khan tinggal di rumah…tiap malam liat live sex “
Dengan tangan gemetar Rif’ah mereplay
“Maksud Abu Nida apa?”
Sesaat kemudian datang balasan dari Abu Nida
“Tiap malam aku main dengan istriku, aku lihat ada jemari kaki yang indah melalui bawah pintu kamar dan aku yakin itu bukan jemari tikus atau kucing dan bukankah ukhti Rif’ah kehilangan pin jilbab berlogo PKS di depan pintu kamar kami?”
Jantung Rif’ah serasa berhenti berdetak membaca sms dari suami Ummu Nida ini. Rif’ah memang sempat kehilangan pin jilbab berlogo PKS pada suatu malam, dan esok paginya dicari-cari tidak ketemu.
Rif’ah tidak membalas sms tersebut, ternyata sms dari Abu Nida berlanjut.
“Sebenarnya jadwalku bersenggama dengan istriku dua kali seminggu…tapi karena aku tahu ada seorang gadis cantik yang menonton….aku jadi bersemangat menambahnya..”
Tubuh Rif’ah menjadi lemas sementara wajahnya memerah membaca sms-sms tersebut. Bahkan kemudian datang mms berupa foto yang ketika dibuka membuat Rif’ah terpekik lirih.
Dalam foto tersebut tampak jelas gambar dia sedang mengintip melalui lubang pintu kamar mereka walaupun suasana agak remang-remang. Agaknya diam-diam Abu Nida merekam aktivitasnya mengintipnya bersama istrinya. Kalau dilihat dari fotonya, Rif’ah menduga kamera atau HP tersebut di letakkan di atas komputer di rumah tersebut.
Rif’ah tak bisa berkata apa-apa dan tubuhnya menjadi sangat lemas tak bertenaga. Belum hilang keterkejutannya tiba-tiba Abu Nida menelpon. Rif’ah sempat beberapa lama tak berani mengangkatnya namun kemudian dengan dada berdebar kencang, akhwat cantik ini pun mengangkat telepon.
“Rif’ah?” terdengar suara di seberang yang dikenal baik sebagai suara Abu Nida.
“Iyy..Ya..”jawab Rif’ah tergagap.
“Saya punya rekaman film Rif’ah mengintip saya dan istri dan istri saya belum tahu….”
“Terus..?”
“Kalau ukhti berpandangan nggak disampaikan ke istri nanti aku kasih tahu dia”
“Jangan!” sergah Rif’ah seketika
“Aku juga punya rekaman ukhti Rif’ah di kamar mandi.. terpaksa aku buat karena anti lebih dulu melihat tubuh bugil kami.. cuman sayang gambarnya tidak terlalu jelas.”
Tubuh Rif’ah kejang mendengarnya
“Tapi tenang aja..tidak akan jatuh ke orang lain jadi tidak perlu khawatir akan tersebar di internet”
Rif’ah gemetar memegang handphonenya.
“Abu Nida mau memerasku.?” tanya Rif’ah terbata-bata
“Tidak…aku lihat ukhti sangat cantik…Jujur aku tertarik dan aku lihat anti sering curi-curi pandang ke arahku jadi sebenarnya kita sama-sama tertarik khan…..aku butuh istri kedua…Ummu Nida sudah mulai tidak bergairah…Aku ingin anti menjadi istriku…kita kawin di bawah tangan”
Wajah Rif’ah merah padam mendengarnya. Akhwat PKS ini menggigit bibirnya kuat-kuat Akhwat PKS ini tidak menyangka akan menghadapi masalah serumit ini.
“Gimana ukhti….secepatnya ana tunggu jawaban anti! Anti harus mau!”
Rif’ah terpaku tak menjawab apapun.
Di mata Rif’ah, Abu Nida cukup tampan walaupun telah berusia 40 tahun menurut pengakuan Ummu Nida dan yang paling mendebarkan jantungnya, alat vitalnya berukuran istimewa sehingga membuatnya sering mengkhayalkan laki-laki ini menyetubuhinya. Tapi untuk menjadi istri kedua dan kawin di bawah tangan adalah sebuah pilihan yang berat.
“Baik dua hari lagi aku kontak lagi…untuk memastikan anti mau”ujar Abu Nida mengakhiri telponnya.
Rif’ah termangu-mangu. Tubuh akhwat PKS cantik ini menjadi lemas dan akhirnya hanya duduk termenung di bangku taman kampusnya. Untuk kembali ke rumah Ummu Nida sebuah hal yang tidak mungkin setelah mendapat telpon dari Abu Nida seperti itu. Kmebali ke kostnya yang dulu, ada Faizah. Senja mulai membayang
Sementara itu di saat yang bersamaan itu di kantor DPD PKS Kota, tiga perempuan berjilbab lebar terlihat duduk di ruang tamu. Tiga teh botol yang hampir kosong terletak di depan mereka masing-masing. Sudah hampir satu jam ketiganya berbincang di ruang itu bahkan sempat makan siang. Ketika perempuan itu tak lain adalah Ummu Rosyid, Ummu Nida serta Faizah. Dari ketiga perempuan itu yang paling banyak diam adalah Ummu Nida bahkan wajah ummahat beranak tiga ini tampak pucat.
“Jadi mulai hari ini komandan Santika dipegang dik Faizah” ujar Ummu Rosyid.
Faizah yang siang ini memakai jilbab warna hijau mengangguk-angguk sembari tersenyum senang mendengarnya.
“Bukankah begitu Um?”tanya Ummu Rosyid kepada Ummu Nida yang berwajah paling cantik ini diantara ketiganya namun wajah cantik itu terlihat pucat.
Ummu Nida yang banyak termenung itu mengangguk lemah. Sekilas Ummu Nida melirik Faizah namun kemudian dia memalingkan wajahnya ketika melihat Faizah juga tengah memandangnya. Ummahat penyandang sabuk hitam ini masih belum percaya kalau dia kalah dari Faizah. Tapi memang di luar dugaan, kemampuan bela diri Faizah ternyata berada di atasnya. Walaupun dalam karate Faizah cuma sebagai penyandang sabuk hijau, namun akhwat hitam manis ini ternyata menguasai beberapa ilmu beladiri lainnya sehingga membuatnya begitu perkasa. Selain itu usianya juga jauh lebih muda dibanding Ummu Nida yang sering kehabisan nafas dan satu faktor kekalahannya adalah selama seminggu ini dia kehabisan tenaga disetubuhi suaminya berturut-turut tiap malam.
“Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu ada acara…nanti mohon Ummu Nida menyampaikan kepada DPW tentang pergantian ini, untuk DPD biar saya sampaikan langsung kepada suami..jadi Ummmu Nida nanti pulang sama Faizah” kata Ummu Rosyid yang kebetulan suaminya adalah ketua DPD.
Ummu Nida kembali mengangguk lemah. Ummahat tiga anak ini berdiri ketika Ummu Rosyid berdiri pamit pulang namun ketika hendak menyalami Ummu Rosyid, Faizah pun berdiri ikut menyalami Ummu Rosyid membuat Ummu Nida mengurungkan niatnya. Faizah terlihat menyalami Ummu Rosyid saling menempelkan pipi dan kemudian berpelukan. Ketika berpelukan itu tangan Faizah sempat meremas pantat Ummu Rosyid yang kebetulan memang montok.
“Ih..anti ini kebiasaaan…remas pantat orang sembarangan!”ujar Ummu Rosyid
Faizah tertawa namun Ummu Nida yang melihat kejadian ini segera membuang muka.
Ketika Ummu Rosyid menyalami Ummu Nida, Ummu Nidapun berdiri bahkan kemudian mengantar Ummu Rosyid hingga ke pintu.
“Faizah itu berbahaya buat akhwat PKS” desis Ummu Nida.
“Kenapa?” tanya Ummu Rosyid
Ummu Nida hendak menjawabnya namun tiba-tiba Faizah telah berdiri di belakangnya membuat Ummu Nida terdiam.
“Ya sudah pamit dulu” ujar Ummu Rosyid berpamitan.
Kedua perempuan berjilbab lebar ini hanya memandangi Ummu Rosyid meninggalkan halaman DPD PKS.
“ Mbak bilang apa sama Ummu Rosyid?”tanya Faizah
“Nggak bilang apa-apa” jawab Ummu Nida dan ummahat beranak tiga ini tersentak ketika kemudian Faizah memeluknya dari belakang.
“Faizah….Faizah apa nggak sadar kalau perbuatan kamu itu nista dan nggak wajar”
“Sudahlah..nggak usah berkhutbah…mbak telah berjanji menjadi pengganti Rif’ah kalau mbak kalah….”desis Faizah dengan tangan menyusuri pantat Ummu Nida yang masih berbalut jubah panjang tersebut.
“Pantat yang bahenol…mbak lebih montok dan menggairahkan dibanding Rif’ah” kata Faizah sambil meremas-remas pantat Ummu Nida yang memang montok dan kenyal tersebut.
”Aku suka bau keringat mbak….Rif’ah terlalu wangi membosankan walaupun gadis itu sangat cantik dan bertubuh sintal, tapi mbak montok dan payuadar mbak gede”
Tiba-tiba Ummu Nida merasa curiga kalau Faizah bukan perempuan tapi dia adalah laki-laki yang menyusup di barisan akhwat PKS. Dalam keadaan dipeluk Faizah dari belakang, salah satu tangan Ummu Nida membekap selangkangan Faizah.
Faizah terkejut dengan perbuatan Ummu Nida namun sesaat kemudian akhwat hitam manis ini tertawa panjang.
“Tenang mbak….aku bukan laki-laki yang menyamar, kalau pengen lihat..ayo ke kamar” ujar Faizah sambil menarik Ummu Nida ke salah satu kamar di kantor DPD PKS kota. Kamar tersebut adalah salah satu kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istrirahat personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan bantal guling serta satu set meja dan kursi.
Dalam kamar itu, Ummu Nida duduk di kursi memandang Faizah yang berdiri di depannya.
“Sekarang mbak yang montok, liat baik-baik..apakah aku punya kontol atau tidak”kata Faizah sambil tersenyum.
Cerita seks Pertama kali Faizah melepas sepasang kaus kaki yang membungkus kedua kakinya kemudian disusul jilbab lebar warna hijau yang dipakainya hingga terlihat rambutnya yang dipotong pendek seperti polwan. Ummu Nida tercekat melihat Faizah berpotongan rambut cepak karena baru pertama kali ini melihat Faizah tanpa jilbab.
Setelah itu Faizah melepas jubah panjang warna coklat yang dipakainya sehingga Faizah kini hanya terlihat memakai bh warna hitam sementara bagian bawahnya memakai celana training warna coklat gelap. Ummu Nida melihat Faizah adalah seorang akhwat yang berotot bahkan payudaranya pun tergolong kecil.
Tanpa memperdulikan pandangan Ummu Nida, Faizah melepas BH yang membungkus buah dadanya kemudian celana training yang menutup bagian bawah tubuhnya.. Ummu Nida terkejut ketika melihat Faizah ternyata tidak memakai celana dalam sehingga ketika celana training itu terlepas dari tubuhnya, tubuh Faizahpun bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya.
“Gimana mbak?…aku nggak punya penis khan”
Ummu Nida terdiam, ummahat tiga anak ini ternganga melihat tubuh Faizah bugil di depannya saat ini.Baru pertamakali ini Ummu Nida melihat Faizah dalam keadaan bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya seperti saat ini.
Tubuh akhwat PKS yang satu ini memang terlihat perkasa apalagi kulitnya yang kecoklatan mengesankan keperkasaannya, walaupun di dadanya tumbuh sepasang payudara berukuran 32 dengan puting susu coklat gelap serta kemaluannya adalah kemaluan wanita. Satu hal yang tak diduga Ummu Nida, ternyata Faizah mempunyai kemaluan dengan rambut yang lebat sehingga sebagian kemaluan Faizah yang cukup montok membukit itu tertutupi oleh lebatnya rambut kemaluannya.
Ummu Nida tidak sempat berpikir lama karena kemudian Faizah yang bugil ini menariknya untuk berdiri lantas memeluknya
“Ayo mbak…mbak juga buka seluruh pakaian mbak” desis Faizah.
Tubuh Ummu Nida mengejang ketika dengan bernafsu Faizah melumat bibirnya sementara tangannya mulai menggerayangi dadanya di balik jilbabnya mencari kancing jubah.
Tanpa di duga keduanya tiba-tiba sebuah mobil masuk ke halaman kantor DPD PKS kota itu. Faizah yang terkejut melepaskan pelukannya kepada Ummu Nida.
“Siapa sih…ngganggu aja!!”umpat Faizah kesal yang lantas dengan tergesa-gesa gadis ini memakai jilbab dan jubahnya tanpa memakai apapun di baliknya.
Ummu Nida pun sejenak merapikan diri ketika di dengarnya ketukan dan salam di pintu.
“Mbak masih hutang sama aku..!” desis Faizah kesal.
Ternyata yang datang adalah Mufidah bersama suami dan kedua anaknya. Ummu Nida dan Faizah menyambut Kabid Kewanitaan DPD yang baru ini. Ummu Nida menyalami Mufidah dengan hangat dan memeluknya sembari menempelkan kedua pipinya. Faizah berbuat yang sama hanya ketika memluknya, tangan Faizah sempat mermas pantat montok Mufidah yang membuat ummahat ini tersentak kaget. Faizah tersenyum. Kekesalannya sedikt terobati karena yang datang adalah seoarang ummahat yang cantik yang dikenalnya sebgai Kabid Kewanitaan DPD menggantikan Ummu Nida yangs ekarang duduk di DPW.
“Saya nyari Ummu Nida….di rumah kosong….terus tadi ketemu Ummu Rosyid katanya Ummu Nida di kantor DPD… ya sudah saya kesini”
Ummu Nida pun tersenyum , wajah ummhata ini tampak leg dan cerah melihat kedatangan Mufidah. Kedua ummahat inipun masuk ke ruangan bagian kewanitaan meninggalkan Faizah sendirian..
“Sebentar ya ukht…”ujar Mufidah.
Faizah mengangguk sedikit kesal. Melihat Mufidah, timbul hasrat kepada ummahat yang satu ini. Faizah berencana untuk bisa menikmati tubuhnya suatu saat nanti.
Untuk mengusir kekesalannya, Faizah pergi ke teras mencari udara segar. Dilihatnya sebuah Corolla lama terparkir dengan suami Mufidah di dalamnya bersama kedua anaknya yanga agaknya tertidur pulas. Faizah kemudian duduk di lantai teras yang bersih itu sambil membaca sebuah buku.
Dalam corolla merah itu, suami Mufidah melihat seorang akhwat tampak keluar dari kantor DPD PKS lantas duduk di teras. Wajah akhwat itu manis dengan kulit yang kecoklatan dan tubuh yang montok. Melihat wajah akhwat tersebut, suami Mufidah rasanya pernah mengenalnya. Diperhatikannya baik-baik wajah tersebut dan suami Mufidah ini merasa yakin dia mengenal akhwat ini atau mungkin mirip dengan seoarang yanmg dikenalnya.
Faizah yang melihat suami Mufidah ini tengah memperhatikannya tiba-tiba timbul keinginan akhwat ini untuk menggoda suami Mufidah. Dengan tetap membaca buku, kedua lutut Faizah diangkat sehingga dengan posisi seperti ini, Faizah yakin bagian bawah tubuhnya yang siang ini memaki jubah panjang akan terbuka dan terlihat oleh suami Mufidah.
Memang betul dugaan Faizah karena memang suami Mufidah yang bernama Syamsul ini tengah terkejut ketika dia melihat akhwat yang tengah diperhatikannya itu tiba-tiba merubah posisi duduknya. Dalam posisi duduk seperti itu, terlihat jelas bagian bawah tubuh akhwat tersebut terbuka sehingga Syamsul leluasa melihat betis, paha bahkan selangkangan akhwat tersebut.
Dada Syamsul berdegup kencang ketika melihat akhwat tersebut ternyata tidak memakai celana dalam dan laki-laki ini melihat akhwat tersebut mempunyai bulu-bulu kemlauan yang lebat. Dalam sekejap kontol suami Mufidah ini mengeras melihat selangkangan Faizah yang menggiurkan. Syamsul tidak tahu bahwa Faizah memang sengaja memamerkan bagian tubuhnya yang paling rahasia itu kepada dirinya.
Keasyikan Syamsul hilang ketika dia melihat istrinya keluar dari kantor DPD PKS bersama seorang perempuan berjilbab lebar yang berwajah cantik. Syamsul melihat istrinya melambaikan tangan memanggilnya. Syamsul keluar dari mobil setelah melihat kedua anaknya masih tertidur pulas dalam mobil.
Syamsul menghampir para perempuan berjilbab lebar ini. Faizah yang semula duduk di teraspun kini berdiri. Begitu Syamsul mendekat, giliran Faizah yang terkejut melihat suami Mufidah ini.
“Bang Syamsul!” desis Faizah di sela keterkejutannya.
Syamsul yang mendengar namanya disebut memperhatikan Faizah lebih seksama dan bebrepa detik kemudian laki-laki ini terkejut pula.
“Femmy??”tanya Syamsul agak ragu.
Faizah mengangguk. Femmy adalah nama aslinya
“Lho abang sudah kenal dengan akhwat ini?”sergah Mufidah dengan nada cemburu.
Syamsul mengangguk
“Dia adiknya Hendrik yang sering ke rumah kita dan kita punya hutang kepada Hendrik”
“Ya..dan bang Syamsul punya hutang 25 juta kepada bang Hendrik. Minggu ini dia akan datang ke kota ini, dia sudah beli rumah di sini” timpal Faizah
Giliran Mufidah yang terkejut mendengarnya. Wajah cantik ummahat berusia 32 tahun ini tegang dan tubuhnya gemetar. Bukan karena jumlah hutang yang disebut Faizah, tapi nama Hendrik yang membuat tubuh ummahat ini gemetar.
Bagi Mufidah, Hendrik yang dimaksud bukanlah laki-laki yang asing baginya. Selama di Jakarta sudah dua kali laki-laki ini memperkosanya ketika suaminya tidak ada di rumah. Yang membuat Mufidah gelisah karena walaupun dia diperkosa, tapi Hendrik mampu membuatnya menikmati perkosaan tersebut. Mufidah mendesak suaminya pindah ke kota ini untuk menghindar dari Hendrik tapi ternyata laki-laki yang dihindari Mufidah akhirnya muncul juga di kota ini. Suaminya memang belum tahu perkosaan yang menimpanya
“Bang Hendrik memang sedang memburu kalian!”ujar Faizah pendek membuat Syamsul dan istrinya tegang.
“Kapan dia datang? Begitu dia datang akan kami lunasi hutangnya”ujar Syamsul
“Lusa..dan dia sudah aku kasih tahu alamat rumah kalian”
Mufidah gelisah mendengarnya. Teringat kembali ucapan Hendrik kalau dia ketagihan memperkosanya dan dia akan memburu kemanapun Mufidah pergi.
“Ya sudah..aku pamit dulu…tapi Ummu Nida masih punya hutang sama aku…..buat Bang Syamsul bayar aja hutangnya…..yang tadi gratis aja” ujar Faizah sambil tersenyum menggoda.
Syamsul tergagap mendengarnya, sementara Ummu Nida diam tak berkomentar apapun.
Faizah teringat ucapan bang Hendrik kalau dia tergila-gila dengan istri Syamsul dan ternyata memang pantas istri Syamsul membuat abangnya tergila-gila walaupun abangnya telah mempunyai istri. Namun dirinya agaknya juga mulai tergila-gila dengan Mufidah yang berkulit putih mulus itu. Sambil melamunkan Mufidah, Faizah menstarter sepeda motornya meninggalkan halaman DPD PKS kota.
Di mata Faizah, Mufidah mempunyai nilai tengah-tengah diantara Rif’ah dan Ummu Nida. Dari ketiganya yang paling cantik adalah Rif’ah namun yang paling putih kulitnya adalah Mufidah sedangkan tubuh yang paling montok adalah Ummu Nida. Dari ketiga perempuan itu yang baru dinikmati baru Rif’ah sedangkan Ummu Nida nyaris dinikmatinya malam ini dan Mufidah yang berkulit putih itu kini dalam targetnya.
Mendadak Faizah teringat abangnya yang akan datang lusa. Di benak Faizah timbul rencana untuk bekerja sama agar sama-sama menikmati ketiga tubuh wanita PKS yang molek dan menggiurkan itu. Faizah yakin abangnya juga akan tergila-gila bila disodori Ummu Nida yang bertubuh montok dan berkulit kuning langsat serta berwajah cukup cantik ataupun Rif’ah yang berwajah sangat cantik, sintal dan masih perawan. Faizah tersenyum membayangkan semuanya. Selama dia bergabung dengan PKS baru ketiga perempuan inilah yang membangkitkan nafsunya
Setelah tau Faizah masih tetap di PKS, Rif’ah ketakutan sekali. Terpaksa dia untuk sementara pergi dari tempat kosnya dan tinggal bersama Ummu Nida dan suaminya. Malam itu Ummu Nida merasa mengantuk berat. Dia ingin segera tidur, ini membuat Abu Nida suaminya merasa gembira sebab usahanya berhasil. Abu Nida memang telah memasukkan obat tidur cukup banyak dalam minuman istrinya secara diam-diam. Kalau istrinya sudah tidur dia akan bebas menggarap Rif’ah, akhwat cantik yang sudah lama dia inginkan. Sesudah istrinya tidur nyenyak, Abu Nida mengetuk pintu kamar tidur Rif’ah. Rif’ah sudah menduga bahwa yang mengetuk pintu kamar malam-malam begini tentu Abu Nida. Dengan rasa takut dan ingin tahu Rif’ah membuka pintu. Begitu pintu terbuka AbuNida bertanya,”Belum tidur,Rif’ah?” Jawab Rf’ah,”Belum, Bi.”
“Boleh masuk?” desak Abu NIda. Rif’ah keberatan dan berusaha menolak,”Jangan,Bi ntar Ummu tau gimana?” Jawab Abu Nida, “Ah, nggak bakalan tau dia kan sudah tidur!” Karena Rif’ah mau menolak, akhirnya Abu Nida memaksa masuk kamar dan segera mengunci pintu. Tinggallah mereka berdua dalam kamar, sementara Rif’ah masih memakai jilbab dan jubahnya. Rif’ah ketakutan meskipun dia juga sebenarnya senang sudah berdua dengan Abu Nida. Tanpa basa-basi lagi Abu Nida memeluk tubuh Rif’ah yang sintal itu dari depan dan mendaratkan ciuman-ciuman di bibir merah Rif’ah. Rif’ah menggeliat merasakan ciuman-ciuman bibir Abu Nida yang berkumis dan berjenggot lebat itu. Karena terangsang Rif’ah mulai membalas dengan ciuman yang tak kalah agresif.
Tangan Abu Nida mulai meraba tetek Rif’ah dari luar jubah dan jilbabnya. “Jangan Bi, nggak mau”, R1f’ah mencoba menolak. Tapi Abu Nida tidak peduli, bahkan tangannya mulai menyusup di balik jubah dan BH Rif’ah. “Oouuh!”, Rif’ah menjerit, baru kali ini teteknya dipegang tangan lelaki. Abu Nida mulai membuka kancing-kancing jubah Rif’ah, kali ini Rif’ah tidak melawan, rupanya dia juga sudah terangsang berat. Abu Nida mulai mengisap dan menyedot tetek Rif’ah yang masih kencang dan keras itu. Rif’ah mulai mengerang-ngerang tak menentu dan pasrah dengan segala yang dilakukan Abu Nida meski sebelumnya dia menolak mati-matian.
Abu Nida menyingkap jubah Rif’ah dan meraba-raba memek Rif’ah yang mulai basah itu. Rf’ah mencoba menolak tangan Abu Nida,”Jangan Mas, Rif’ah nggak mau.” Entah mengapa Rif’ah mulai memanggil mas kepada Abu Nida. “Nggak apa-apa, ntar juga enak.” kata Abu Nida tanpa peduli atas penolakan Rif’ah. Lalu Abu Nida melorot celana dalam Rif’ah dan menjilat-jilat memek Rif’ah yang masih perawan itu. Rif’ah malu sekali karena memeknya selama ini sangat dijaganya dari lelaki. Abu Nida mulai memain-mainkan lidahnya di memek Rif’ah. Mendapat perlakuan itu Rif’ah merasa jijik. Tapi rangsangan yang kuat membuatnya tidak tahan mulutnya menjerit-jerit tak karuan. “Ooouuuh, Mass, enaak Mass, terusin aja!” Akhirnya keluarlah cairan dari memek Rf’ah. Rif’ah orgasme.
Kesempatan ini tak disia-siakan Abu Nida. Dia bangun dan mengarahkan kontolnya ke memek Rif’ah yang basah itu. Rif’ah mencoba menghindar, tapi karena badannya lemas akibat orgasme tadi, Rf’ah tak berdaya. Abu Nida mulai menusukkan batangnya yang besar dan panjang itu ke memek Rif’ah. Beberapa kali Abu Nida mendorong tapi kontolnya tidak bisa masuk. Memek Rif’ah benar-benar ketat. Akhrinya Abu Nida membuka paha Rif’ah yang berjubah itu selebar-lebarnya dan menusukkan kontolnya dengan keras. Rif’ah menjerit kesakitan, “Ahhh, sakit mass, pelan-pelan dong…..sshhhh… aaaahhh.” Kepala kontol Abu Nida dapat menembus memek Rif’ah, Abu Nida terus mendorong hingga batang kemaluannya dapat masuk semuanya ke memek Rf’ah. Abu Nida mengocok-ngocok kontolnya maju mundur di memek Rfi’ah. Mula-mula Rif’ah masih merasa sakit tapi lama-lama mulai keenakan dan mengimbangi gerakan dan goyangan Abu Nida. Akhirnya sesudah 1/2 jam Rif’ah menjerit karena memeknya yang berdenyut-denyut itu mulai mengeluarkan cairan orgasmenya. “Masss, aku keluar masss!!!” jerit Rf’ah dengan penuh nafsu memeluk Abu Nida. Abu Nida pun mulai nggak tahan dan memeluk tubuh Rif’ah yang sintal dan padat itu erat-erat. Tubuh Abu Nida mengejang dan menyemburkan air maninya ke rahim Rif’ah. Lalu keduanya terbaring lemas kehabisan tenaga.
“Makasih ya Rif’ah!” kata Abi Nida. Rif’ah tidak menjawab, air mata menetes di pipinya. Perawannya direnggut oleh ikhwan seiornya sendiri. Sejak itu kapan saja Abu Nida mau, Rif’ah harus bersedia dientot. Kalau tidak adegan tadi yang secara diam-diam sudah direkam Abu Nida akan disebar luaska. Ah, kasihan Rif’ah
Cerita seks Sejak itu Rif’ah tidak bisa lagi melepaskan diri dari Abu Nida, selain diancam akan diedarkannya rekaman-rekaman bugilnya Rif’ah sendiri memang ketagihan untuk ngentot dengan Abu Nida. Tapi rupanya ada juga orang-orang lain yang sedang mengincar Rif’ah, akhwat muda yang cantik ini. Salah satunya adalah Mas Syamsul, suami Mufidah dan juga Hendrik, abangnya Faizah alias Femmy itu.
www.ceritasexsualpanas.blogspot.com – Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Mesum Ngentot –

Tidak ada komentar:
Posting Komentar