Jumat, 21 Oktober 2016

RIFA 1

Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Ngentot Terbaru Cerita HOT – Cerita mesum seorang pks yang tidak dapat membendung gairah sexualnya dengan judul “ RIFA 1 ” yang tidak kalah serunya dan dijamin dapat meningkatkan libido seks, selamat menikmati.





Cerita seks Sopir taksi yang dihampiri Rif’ah tersebut tengah berada di warung dan dia belum sempat menghabiskan teh botol yang ada di tanganya ketika dia melihat seorang gadis berjilbab lebar terlihat tergesa-gesa keluar dari warnet. Sopir taksi ini sempat terpesona oleh kecantikan wajah gadis berjilbab lebar yang kemerah-merahan tersebut namun dia segera meninggalkan teh botolnya ketika dia melihat gadis itu menuju ke arah taksinya

“Taksi mbak?”tanya seorang laki-laki berseragam sopir taksi tersebut mengejutkan Rif’ah.
“Ya pak…buruan!”jawab Rif’ah gugup.
“Silahkan mbak…” ujar sopir taksi ini sembari membuka pintu belakang taksinya mempersilahkan Rif’ah masuk ke dalam taksinya.
Rif’ah bergegas masuk ke dalam taksi dengan membungkuk diiringi tatapan sopir taksi. Akhwat PKS ini tidak sempat menyadari ketika mata sopir taksi ini berbinar melihat dirinya masuk ke dalam taksinya..
“Pantat yang bahenol”desis sopir taksi ini sambil menyeringai melihat pantat Rif’ah yang terlihat menggiurkan ketika akhwat PKS ini membungkuk masuk ke dalam taksinya.
Jubah coklat susu yang dipakai Rif’ah bukan tergolong jubah yang tebal sehingga belahan pantat Rif’ah yang bundar dan bahenol itu cukup jelas tercetak saat dia membungkuk masuk ke dalam taksi. Darah sopir taksi ini mendadak berdesir kencang ketika kemudian dia melihat cetakan celana dalam yang biasanya tampak, saat ini tidak terlihat pada jubah yang dipakai akhwat PKS ini.
“Apa nggak pakai celana dalam yah?” tanya sopir taksi dalam hati. Dan sopir taksi ini tak dapat menahan tangannya untuk meraba dan mengelus pantat montok Rif’ah dan bundar tersebut, ketika akhwat PKS ini masuk ke dalam taksinya. Bahkan jarinya sempat menyusuri belahan pantat Rif’ah selama beberapa detik yang membuatnya yakin kalau gadis berpakaian rapat tertutup yang menjadi penumpangnya sore ini memang tidak memakai celan dalam.
Rif’ah yang masih kalut oleh kejadiann warnet tidak menyadari tangan sopir taksi ini yang meraba dan mengelus pantatnya bahkan menyusuri belahan pantatnya ketika dia masuk ke dalam taksi. Benaknya hanya berpikir untuk segera meninggalkan warnet yang telah membuatnya sangat malu tersebut.
“Ke mana mbak?”tanya sopir taksi yang sekarang telah berada di belakang kemudi.
Rif’ah menyebut sebuah tempat dan sesaat kemudian taksi itupun meninggalkan warnet yang telah membuat akhwat PKS ini malu.
Dalam taksi ber AC tersebut, Rif’ah menarik nafas dalam-dalam. Matanya terpejam sambil mengatur jantungnya yang berdebaran tidak karuan. Akhwat PKS ini tidak menyangka hari ini semuanya menjadi jelek dan semuanya berawal dari keinginannya untuk membuktikan website-website cabul yang melecehkan akhwat justru berakhir dengan sesuatu yang memalukan bagi akhwat seperti dirinya. Terbayang kembali kejadian-kejadian yang dilakukkanya beberapa saat yang lalu di warnet. Ada penyesalan yang menyelinap di hati akhwat PKS berwajah lembut dan cantik atas segala yang dia lakukan dalam box warnet tersebut. Rif’ah tersadar kembali dengan segala doktrin moral yang selama ini didapatnya serta statusnya sebagai seorang akhwat PKS. Memang tidak semua akhwat PKS mempunyai moral yang bagus bahkan beberapa akhwat PKS yang dikenalnya mengakui sering bermasturbasi, akan tetapi sejelek apapun moral seorang akhwat PKS mestinya harus terlihat lebih baik daripada wanita lainnya.
“Mbak dari PKS yah?” tanya sopir taksi tiba-tiba yang membuat Rif’ah kaget.
“Iya Pak” jawab Rif’ah pendek;” kenapa pak?
“Nggak..nggak papa…saya suka PKS banyak perempuannya dan perempuannya cantik-cantik he..he..he” jawab supir taksi ini sambil terkekeh.

Rif’ah terdiam sambil mengerutkan kening mendengar ucapan sopir taksi ini yang terasa mesum dan cabul, tanpa sadar bulu kuduk akhawat PKS ini merinding. Mendadak Rif’ah merasa tidak suka kepada sopir taksi ini dan merasa malas melayani obrolan sopir taksi ini dan firasatnya mengatakan bahwa dia harus berhati-hati dengan sopir taksi ini.Akhwat PKS ini teringat beberapa kejahatan yang dilakukan oleh sopir taksi di Jakarta seperti beberapa berita yang dibacanya namun dia ragu kalau di kota ini akan terjadi kejahatan seperti ini apalagi saat ini masih sore yang terang dan di tengah keramaian kota.
Untuk mengurangi kegelisahannya, Rif’ah mengambil MP4 player miliknya dan melalui headset yang dihubungkan dengan MP4 Player tersebut, akhwat PKS ini mendengarkan nasyid dari kelompok nasyid Snada yang sangat disukainya. Dengan posisi duduk setengah rebah dan memejamkan mata, Rif’ah menikmati alunan nasyid yang merdu tersebut sehingga membuat gejolak birahi dan kegelisahannya perlahan kemudian mereda. Beberapa kali kepala akhwat PKS ini bergoyang mengikuti irama nasyid yang didengarnya terlena oleh kelompok nasyid bersuara emas tersebut.
Berbeda dengan Rif’ah, birahi sopir taksi yang mulai merasa akhwat PKS ini tidak menyukainya justru mulai bergejolak setelah dia meraba pantat montok Rif’ah ketika akhwat PKS ini masuk ke dalam taksinya. Bukan saja karena dia merasakan kenyalnya pantat montok gadis berjilbab lebar ini atau terpesona kecantikan wajah gadis berjilbab lebar ini, namun yang lebih membuatnya birahi adalah dia yakin bahwa gadis berjilbab lebar ini tidak memakai celana dalam dibalik jubah panjang coklat susu yang dipakainya. Tubuh sopir taksi ini menjadi gelisah menahan birahi yang membuat kontolnya perlahan kemudian mulai tegak mengeras teringat ketika tangannya menyusuri belahan pantat montok akhwat PKS ini yang tercetak cukup jelas di jubah panjangnya.
Melalui spion dalam kabin taksinya, sopir taksi ini melirik ke arah Rif’ah dan dia melihat gadis berjilbab lebar ini tampak duduk setengah rebah sembari mendengarkan sesuatu. Kedua matanya tertutup dan kadangkala kepala gadis berjilbab lebar ini bergoyang mengikuti alunan yang didengarnya. Sopir taksi ini menelan ludah melihat kecantikan paras penumpangnya sore ini. Selama ini dia memang tertarik dengan PKS dan kerapkali ikut kegiatan PKS terutama demo-demo yang dilakukan mereka. Sopir taksi ini tertarik kepada PKS bukan karena partainya tapi karena banyaknya perempuan di partai tersebut dan kebanyakan para perempuan PKS berparas menawan. Paras cantik menawan namun sekujur tubuhnya tersembunyi dalam pakaian yang rapat tertutup hanya menyisakan bagian-bagian tubuhnya yang menonjol dna membukit sungguh membuatnya penasaran terobsesi dengan para perempuan di PKS. Baginya sebuah keberuntungan yang besar memperoleh penumpang salah seoarang perempuan PKS berwajah cantik yang sintal.
Sampai di sebuah perempatan besar, lampu lalulintas menyala merah sehingga membuat taksi yang dinaiki Rif’ah berhenti, namun Rif’ah yang masih asyik dalam alunan nasyid tidak menyadarinya. Sopir taksi itu kembali melirik Rif’ah melalui spion dalam kabin taksinya dan dia melihat penumpangnya masih terpejam. Sopir taksi ini akhirnya terdorong untuk melihat akhwat PKS ini secara langsung tanpa melalui kaca spion sehingga dia kemudian membalikkan tubuhnya ke arah tempat duduk Rif’ah. Mata sopir taksi membesar melihat kecantikan wajah akhwat PKS yang menawan ini namun sekian detik kemudian detak jantung sopir taksi ini seakan berhenti ketika matanya menyusuri sekujur tubuh Rif’ah terhenti di bagian bawah akhwat PKS ini.
“Ohhh…”desah sopir taksi ini dengan mata melotot menatap bagian bawah akhwat PKS ini.
Rif’ah yang duduk setengah rebah dalam taksi membuat posisi pinggulnya lebih rendah daripada kedua lututnya dan membuat ujung jubah yang dipakianya tertarik ke atas hingga setengah betisnya terlihat.
Sopir taksi yang tengah dilanda birahi ini menelan ludah melihat sepasang betis Rif’ah yang indah walaupun kedua betis akhwat PKS yang terlihat separuh tersebut masih memakai kaus kaki krem yang panjang. Akan tetapi yang membuat birahi sopir taksi ini menggelegak ketika dilihatnya kedua kaki Rif’ah membuka dan dengan posisi duduk yang posisi pinggulnya lebih rendah daripada kedua lututnya dan ujung jubah yang tertarik ke atas membuat sebagian paha mulus akhwat PKS berkulit putih ini terpampang di depan mata sopir taksi ini.

Rif’ah dengan mata masih terpejam terlihat masih asyik dengan nasyid yang sedang dinikmatinya. Pada saat itupula Rif’ah ingin duduk lebih rileks sehingga akhwat PKS yang belum menyadari perbuatan sopir taksi yang dinaikinya saat ini, beberapa saat kemudian justru membuka kedua pahanya di depan mata sopir taksi yang tengah birahi ini
“Ohhhh”desah sopir taksi yang kini tidak sekedar melihat sebagian paha Rif’ah yang putih mulus namun dengan posisi duduk yang seperti itu selangkangan akhwat PKS ini dapat terlihat dari tempat duduk sopir taksi ini terlebih sorot matahari yang masih putih ke arah Rif’ah, membuat selangkangan akhwat PKS ini terlihat sangat jelas di mata sopir taksi ini.. Laki-laki berusia 30an yang belum lama menikmati kemulusan sebagian paha Rif’ah menjadi gemetar melihat pemandangan di depan matanya yang sangat merangsang libidonya. Bukan hanya sekedar kemulusan paha Rif’ah yang berkulit putih ini yang terlihat, namun kemaluan gadis berjilbab lebar yang cantik ini terpampang sangat menggiurkan. Keyakinannya ternayata terbukti bahwa gadis berjilbab lebar dengan pakaian rapat tertutup memang tidak memakai celana dalam.
Walaupun sopir taksi ini belum beristri namun dia sudah puluhan kali dia bermain dengan WTS sehingga melihat kemaluan seoarang wanita bukanlah sesuatu nyang istimewa baginya. Akan tetapi kemaluan Rif’ah yang kali ini terpampang di depannya adalah kemaluan wanita terindah yang dilihatnya sepanjang hidupnya. Kemaluan akhwat PKS berkulit putih ini terlihat terawat dan tampak mulus membukit dengan bibir kemaluan yang merekah kemerahan serta bersih dari bulu-bulu kemaluan berbeda 180 derajat dengan kemaluan para WTS yang sering dikencaninya.
Sopir taksi ini seakan masih belum dipercaya, bahwa sore ini dia dapat melihat bagian tubuh paling rahasia dari seorang akhwat PKS yang selama ini hanya dapat dikhayalkan saja. Birahi sopir taksi ini semakin menggelegak dan karena dorongan libidonya tersebut, tangan sopir taksi yang sebelumnya sempat mengelus belahan pantat Rif’ah dari luar jubahnya itu secera spontan terulur mengelus paha putih mulus akhwat PKS ini dan akhirnya meremas bukit kemaluannya yang sangat menggiurkan tersebut. Sopir taksi ini merasakan paha Rif’ah yang putih mulus ini terasa kencang dan begitu halus. Ketika tangannya sampai di selangkangan akhwat PKS ini, kemaluan gadis berjilbab lebar ini segera diremas-remasnya penuh nafsu dengan jemari yang mengorek bibir kemaluan yang kemerahan tersebut. Birahi yang menggelegak ini rupanya telah membuat sipor taksi ini kehilangan akal sehatnya.
Perbuatan cabul sopir taksi ini sedetik kemudian membuat Rif’ah terperanjat sehingga keasyikannya menikmati alunan nasyid buyar dan secara refleks akhwat PKS ini membuka kedua matanya.
“Aiihhhhhh!!” pekik Rif’ah terkejut ketika melihat tangan sopir taksi ini telah menyusup ke balik jubahnya dan akhwat PKS ini merasakan tangan sopir taksi tersebut kini telah meremas bagian tubuhnya yang paling sangat dijaga selama ini bahkan gadis ini juga merasakan jemari sopir taksi ini mulai mengorek bibir kemaluannya. Seketika itu pula Rif’ah meronta membuat sopir taksi ini terkejut dan segera menarik tangannya dari sela-sela paha akhwat PKS yang tengah diraba-rabanya. Bersamaan itupula lampu lalu lintas menyala hijau sehingga sopir taksi ini segera kembali ke belakang kemudi seperti semula dengan nafas yang masih memburu oleh birahinya dan wajah yang merah padam.
Rif’ah yang kini tersadar dengan keadaannya mulai diliputi rasa takut yang luar biasa terhadap sopir taksi tersebut. Wajah cantik akhwat PKS ini menjadi pucat pasi dan tanpa berpikir panjang lagi, Rif’ah segera membuka pintu taksi yang mulai melaju tersebut dan segera meloncat keluar. Rif’ah yang tiba-tiba berada di tengah jalan yang ramai tersebut segera disambut klakson bersahut-sahutan bahkan umpatan dari beberapa pengguna kendaraan lainnya kepada akhwat PKS ini. Tubuh Rif’ah terasa lemah lunglai ketika akhirnya dia berhasil sampai ke tepi jalan sehingga untuk beberapa saat akhwat PKS ini hanya mampu duduk di trotoar. Mata akhwat PKS ini nanar menatap taksi yang semula membawanya meluncur dengan cepat ke arah utara meninggalkan perempatan tersebut.
“Ada apa mbak?” tanya seseorang dengan ramah namun mengejutkan Rif’ah.
Rif’ah segera berdiri ketika dia melihat yang bertanya kepadanya adalah seorang laki-laki berseragam polisi lalu lintas. Polisi ini memang tertarik dengan bunyi klaskson bersahut-sahutan ketika dia melihat seorang gadis berjilbab lebar berwajah pucat pasi keluar dari taksi dan bergegas belari ke pinggir di tengah keramaian lalu lintas.
“Eh..nggak ada apa-apa pak…”jawab Rif’ah

Cerita seks Sempat terlintas keinginan pada diri gadis ini untuk melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya dalam taksi kepada polisi tersebut, namun niat itu kemudian diurungkannya karena dia sendiri merasa malu. Untuk beberapa saat Rif’ah berbasa-basi kepada polisi tersebut sebelum akhirnya dia berjalan ke arah selatan perempatan tersebut dengan langkah gontai. Tas miliknya masih berada dalam taksi dan karena dia turun dari taksi tergesa-gesa sehingga tas miliknya yang berisi diktat-diktat skripsi dan belanjaan di Swalayan Kopma serta beberapa eksemplar majalah Ummi terbaru yang dipesan akhwat di tempat kost, tak sempat dibawanya Untunglah beberapa benda penting seperti dompet, flashdisk, MP4 Player dan HP berada dalam saku jubahnya sehingga kemudian melalui HP tersebut, Rif’ah mengontak Faizah untuk menjemputnya.
Kebetulan perempatan tempat akhwat PKS ini turun dari taksi letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kost sehingga tak sampai 15 menit Rif’ah menunggu Faizah telah muncul dengan mengendarai sepeda motor.
“Sudah lama nunggunya mbak?” sapa Faizah yang sore ini memakai baju panjang warna hijau tua dan jilbab lebar warna hijau muda dengan kaus kaki yang sewarna dengan kaus kaki yang dipakai Rif’ah.
“ Belum kok….ayo cepetan” jawab Rif’ah sambil meloncat ke boncengan Faizah.
Faizah tersenyum, entah kenapa dia selalu berdebar-debar bila memboncengkan Rif’ah, akhwat seniornya yang paling cantik di matanya apalagi bila tangan Rif’ah melingkar di pinggangnya.
Faizah adalah seorang akhwat PKS yang baru berusia 21 tahun asal Jakarta. Di kota ini dia kuliah di salah satu PTS yang cukup punya nama. Baru di kota ini dia mengenal PKS dan kemudian menjadi kader wanita partai tersebut padahal semasa SMA, Faizah adalah seorang gadis tomboy dan luar biasa badung. Nama Faizah yang sebenarnya adalah Femmy namun setelah dia menjadi akhwat PKS, dia merubah namanya. Berbeda dengan Rif’ah yang nama tersebut memang nama lahirnya. Salah satu kelebihan gadis hitam manis yang bertubuh kekar untuk ukuran perempuan ini adalah kemampuan beladiri yang cukup tinggi sehingga tak heran dia direkurt sebagai anggota santika (Barisan Putri Keadilan) semacam satgas wanita di kalangan PKS. Rif’ah selama ini merasa aman bila berjalan bersama Faizah. Beberapa kali Faizah melindunginya dari berbagai gangguan bahkan suatu saat Rif’ah pernah kecopetan namun dengan sigap Faizah membekuk pencopet tersebut.
Hanya ada satu hal yang mengganjal di benak Rif’ah dengan tingkah akhwat yuniornya ini. Rif’ah merasakkan Faizah sangat perhatian kepada dirinya dan seringkali memuji kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya walaupun seingat dia belum pernah sekalipun dia telanjang di depannya. Sebenarnya Faizah juga berwajah tidak terlalu jelek, akan tetapi jika dibandingkan Rif’ah masih kalah jauh apalagi kulit akhwat asal Jakarta ini berwarna cokelat. Namun beberapa lama setelah bergaul dengan Faizah, Rif’ah menganggapnya biasa karena memang banyak akhwat yang memuji kcantikan alamiah yang dimilikinya bahkan jutsru membuat Rif’ah tersanjung dan menambah kian dekat dengan akhwat PKS yang satu ini, terlebih setelah Faizah menjadi salah satu penghuni kostnya sejak 4 bulan yang lalu.

Tak lama kemudian kedua akhwat PKS ini sampai di tempat kost mereka yang terletak di tengah pemukiman penduduk. Rif’ah yang masih shock dengan rentetan kejadian yang dialaminya setelah mebersihkan dirinya hari ini segera masuk ke kamarnya dan tidak bercanda dengan akhwat lainnya sebagaimana biasa. Faizah dan beberapa akhwat penghuni kost tersebut, yang sedianya hendak membahas masalah Rikhanah dengan Rif’ah menjadi segan. Mereka melihat Rif’ah begitu letih dan wajahnya yang cantik itu terlihat pucat pasi ketika mereka menanyakan keadaanya Rif’ah hanya menjawab bahwa dirinay sangat letih dan ingin banyak istirahat. Akhwat PKS ini juga menceritakan kalau tas milknya diambil orang sehingga majalah Ummi titipan dari mereka ikut hilang dan dia berjaji untuk menggantinya esok hari. Tentu saja semua akhwat tidak mau diganti justru mereka bersimpati dengan Rif’ah, bahkan Faizah sempat menggeram kesal mendengarnya.
Pagi harinya seusai sarapan, Rif’ah terlihat segar kembali walaupun akhwat PKS ini lebih sering terlihat termenung daripada biasanya. Hari ini kebetulan libur nasional sehingga aktivitas kampus juga ikut libur akan tetapi Rif’ah bermaksud mencari literature di perpustakaan kampus sehingga pagi ini dia tetap berkemas-kemas berangkat ke kampus. Mendadak HP miliknya berbunyi nyaring dan terlihat nama Ummu Nida yang terpampang di layer HPnya. Rif’ah segera mengangkatnya sambil mengucapkan salam.
“Dik Rif’ah, tolong pagi ini ke kantor DPD ada rapat kecil di bidang kewanitaan” ucap suara di seberang seusai menjawab salam Rif’ah.
“ Jam berapa mbak?”
“Ya..sekitar jam 8…Faizah diajak aja”
“Ya mbak” jawab Rif’ah sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan angka 7.30.
Ummu Nida adalah ketua bidang kewanitaan di DPD PKS daerah ini. Ummahat berusia 33 tahun dan telah berputra tiga itu memang layak menjadi ketua bidang kewanitaan selain keseniorannya di PKS juga kecerdasan dan integritasnya terhadap PKS sangat mengesankan, sehingga khabar yang didengarnya dia akan dipromosikan menjadi pengurus di DPW tingkat propinsi. Rif’ah yang menjadi ketua salah satu divisi di bawah kabid kewanitaan seringkali terbantu oleh Ummu Nida dalam tugas-tugasnya.
“Sudah siap mbak?”
Rif’ah terkejut ketika tiba-tiba Faizah muncul di pintu kamarnya.
“Lho anti sudah tahu?”tanya Rif’ah sembari tersenyum.
“Ya..tadi malam Ummu Nida ke sini bersama suaminya, tapi mbak Rif’ah suah tidur dan kata Ummu Nida nggak usah dibangunkan. Sekalian aja masalah Rikhanah aku sampaikan dan bukti-buktinya aku sampaikan pula”
“Oh” ujar Rif’ah tertegun mendengarnya.
Rikhanah adalah akhwat PKS yang dipercaya menjabat salah satu bagian divisi di bidang kewanitaan di DPD PKS seperti dirinya. Rif’ah tak bisa berkomentar lagi kalau masalah Rikhanah sudah sampai ke Ummu Nida yang terkenal tegas mengenai moral akhwat PKS.
Sesaat kemudian dua akhwat PKS itu meluncur ke kantor DPD PKS yang terletak sekitar 7 km dari tempat kost mereka. Semula kedua akhwat PKS itu menyangka cuman rapat kecil sehingga mereka berdua mengira yang dating sedikit, tapi sesampainya di kantor DPD ternyata akhwat dan ummahat yang datang cukup banyak. Rif’ah tidak menyangka ternyata hari ini ada acara perkenalan ketua bidang kewanitaan DPD PKS yang baru setelah Ummu Nida naik ke DPW tingkat propinsi. Setelah acara perkenalan tersebut barulah diadakan rapat kecil internal di kalangan Bidang Kewanitaan.
Ketua bidang kewanitaan DPD PKS yang baru merupakan orang baru di DPD akan tetapi orang lama di PKS. Namanya Mufidah berusia 32 tahun dan telah mempunyai dua anak. Ummahat ini belum lama tinggal di kota ini setelah pindah dari Jakarta mengikuti suaminya yang dipindah tugas di kota ini namun penunjukkan dia sebagai kabid kewanitaan DPD atas petunjuk dari DPP PKS di Jakarta.
“Cantik ya mbak”komentar Faizah melihat Kabid Kewanitaan yang baru tersebut.
Rif’ah tersenyum mendengarnya. Memang Mufidah adalah seorang ummahat PKS berwajah cantik apalagi di usianya yang matang membuat wanita ini semakin terlihat memikat.
“Tapi secara obyektif, kecantikan mbak Mufidah masih di bawah Mbak Rif’ah”sambung Faizah yang membuat Rif’ah tertawa.
Seusai perkenalan tersebut, rapat yang dimaksud baru dimulai dengan dipimpin Mbak Mufidah dan didampingi oleh Ummu Nida. Dua jam kemudian disusul dengan rapat-rapat masing-masing divisi di bawah Bidang Kewanitaan sehingga berakhir ketika hari mulai senja. Rif’ah dan Faizah berbeda divisi sehingga rapat mereka tidak sama.Rif’ah melihat rapat divis Faizah tampaknya belum selesai sehingga terpaksa Rif’ah menunggu selesainya rapat tersebut.

“Agaknya kita pulang malam mbak”ujar Faizah ketika rapatnya break untuk makan malam.
“Ya nggak papa…toh nggak ada yang dikerjain juga” sahut Rif’ah yang akhirnya ikut makan malam bersama anggota divisi Faizah
Memang tinggal divisi Faizah yang belum selesai rapat ketika jam menunjukkan pukul 8 malam. Dari 10 akhwat yang ikut rapat di divisi Faizah cuman dua akhwat yang masih gadis sedangkan sisanya adalah para ummahat sehingga Rif’ah yang menunggu rapat itu selesai di runag tamu menjadia risih ketika kemudian bermunculan suami-suami para ummahat tersebut untuk menjemput istri-istri mereka yang masih rapat, sedangkan Shafiyyah yang masih gadis juga telah ditunggui oleh adik laki-lakinya. Rif’ah terpaksa menyingkir ke dalam dan akhirnya akhwat ini memilih ruang arsip yang relatif sepi.
Di ruang arsip itulah tanpa diduga Rif’ah menemukan bukti-bukti perbuatan Rikhanah berupa gambar-gambar cabul dan cerita-cerita erotis yang merangsang birahi. Dada Rif’ah semula berdebar-debar dan meras cemas bila ada akhwat yang melihatnya namun setelah melihat suasana sepi di ruang arsip tersebut, diam-diam Rif’ah menikmati setumpuk foto-foto erotis dan beberapa stensilan cerita birahi yang semula milik Rikhanah tersebut. Menikmati koleksi mesum milik Rikhanah itu, dalam beberapa menit kemudian birahi Rif’ah mulai bergejolak secara naluriah. Nafas akhwat PKS ini mulai tersengal dan wajahnya mulai memerah oleh birahi yang mulai menderanya ketika matanya lekat melihat setumpuk foto-foto erotis dan membaca cerita-cerita porno pembangkit birahi bekas milik Rikhanah tersebut. Dengan posisi duduk di kursi, tangan Rif’ah mulai menggosok-gosok selangkangannya hingga jubah panjang dipakainya menjadi kusut, lantas tangan yang lainnya meremas-remas buah dadanya yang kini telah mengencang di balik jilbab lebarnya membuat jilbab warna putih itu ikut kusut semnetara matanya lekat menatap berbagai gambar dan cerita erotis yang diletakkan di meja di depannya.
Tanpa disadari Rif’ah yang tengah asyik menikmati koleksi mesum milik Rikhanah yang disita DPD PKS, rapat divisi Faizah telah selesai. Seluruh peserta rapat tersebut telah pulang dijemput oleh para suami mereka kecuali Shafiyyah yang dijemput adik laki-lakinya. Setelah kantor DPD PKS itu sepi dari akhwat, Faizah yang paling terakhir keluar dari ruang rapat pun bermaksud pulang ke kostnya bersama Rif’ah. Akan tetapi akhwat PKS bertubuh atletis ini tidak melihat Rif’ah sehingga Faizah yang memegang kunci kantor DPD PKS tersebut segera mencari-cari Rif’ah. Tak berapa lama kemudian akhwat PKS ini menemukan Rif’ah berada di ruang Arsip.
“Ohh!”desis Faizah terkejut melihat Rif’ah.

Cerita seks Rif’ah duduk membelakangi arah munculnya Faizah namun Faizah melihat akhwat PKS yang cantik ini terlihat tengah merangsang dirinya sendiri. Jubah panjang yang dipakai Rif’ah tampak tersingkap hingga ke pinggangnya membuat kemulusan paha akhwat berkulit putih yang tampak padat dan kencang tersebut terlihat menggiurkan, sementara tangannya terlihat menyusup ke balik celana dalam yang dipakainya sembari menggosok-gosok. Terdengar suara Rif’ah yang mendesah dan merintih lirih di ruangan Arsip tersebut. Mata Faizah membelalak lebar melihat keadan Rif’ah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Walaupun ketika semalam dia meminjam flashdisk milik Rif’ah penuh berisi gambar dan cerita porno, namun dia tidak menynagka kalau akhwat PKS yang selama ini terlihat alim ternyata tak jauh beda dengan Rikhanah yang diskors oleh pengurus DPD.
Faizah mendadak menyeringai melihat Rif’ah dan diam-diam dia menghampiri Rif’ah yang tengah terggelam dalam birahinya dari belakang lantas kedua tangan Faizah ini memeluk Rif’ah dari belakang.
“Lagi ngapain mbak?” tegurnya di dekat telinga Rif’ah yang masih tertutup jilbab.
‘Aww!!”pekik Rif’ah kaget dengan tubuh terlonjak kaget. Secara refleks akhwat PKS ini menghentikan aktivitas masturbasinya dan segera membenahi jubahnya yang tersingkap lebar hingga ke pinggang. Wajah cantik akhwat PKS ini merah padam dan beberapa saat dia hanya terpaku oleh rasa kaget luar biasa dipeluk oleh Faizah dari belakang.
“Nggak papa kok mbak….aku nggak akan lapor sama Ummu Nida atau mbak Mufidah kok….aku paham kok..aku juga suka dnegan gambar-gambar punya mbak Rikhanah ini…ayo terusin lagi”desis Faizah di dekat telinganya yang membuat Rif’ah merinding.
Rif’ah masih terdiam ketika tanpa diduganya tangan Faizah yang memeluknya tiba-tiba meremas kedua buah dadanya membuat Rif’ah terkejut luar biasa..
“ Mbak Rif’ah masih terangsang yah….buah dada mbak masih kenceng gini”
“Eh..Faizah…apa-apaan ini?!”protes Rif’ah pelan sambil berusaha menepis tangan Faizah.
“Jangan protes mbak…aku tahu mbak Rif’ah punya kumpulan gambar porno dan cerita-cerita erotis dalam flash disk punya mbak yang semalam aku pinejm….aku janji nggak akan melaporkannya kepada Ummu Nida dan mbak Mufidah kok…tenang aja nasib mbak Rif’ah nggak akan kayak mbak Rikhanah kok”
Rif’ah terdiam dan dirinya merasa aneh dengan tingkah Faizah yang tidak diduganya ini. Akhwat PKS ini merasa meriding ketika tangan Faizah yang memeluknya kembali meremas-remas buah dadanya dan Rif’ah mulai merasakan nafas Faizah tersengal memburu mengenai jilbabnya seperti tengah dilanda birahi.
“Mbak Rif’ah masih birahi khan….ayolah nikmati saja” desis Faizah dengan suara gemetar sementara kedua tangannya terus meremas-remas buah dada montok di dada Rif’ah yang masih tertutup jilbab putih yang lebar.
“Faizah jangan!”desis Rif’ah dengan tegang ketika tangan Faizah kini menyusup ke balik jilbab putih lebar yang dipakainya.
“Sudahlah mbak…flashdisk punya mbak Rif’ah masih di tanganku…aku janji nggak akan melaporkan ke atas!”desis Faizah dalam.
Rif’ah yang tidak mau nasibnya seperti Rikhanah ditambah dengan gelegak birahi yang masih menguasainya, akhirnya pasrah ketika tangan Faizah membuka kancing jubahnya di balik jilbab lebar yang dipakainya. Beberapa saat kemudian tangan Faizah segera menyusup meremas buah dada milik Rif’ah yang montok dan kencang tersebut membuat Rif’ah merasa sebuah sensasi yang aneh dan membuatnya bingung.
“Mmm..montok dan kenyal…aku sudah lama merindukan bisa beginian dengan mbak Rif’ah. Mbak Rif’ah cantik, sintal selama ini selalu membuatku bergairah”

Mata Rif’ah membelalak lebar mendengar ucapan Faizah, akhwat PKS ini tidak menyangka bahwa akhwat berperawakan atletis dan anggota Santika adalah seorang akhwat yang menyukai sesama jenis. Belum hilang keterkejutannya Rif’ah merasakan tangan Faizah kemudian tidak hanya sekedar meremas-remas buah dada miliknya namun juga memilin puting susu yang tegang tersebut membuat tubuh akhwat PKS yang cantik ini menggeliat dan desahnya tak mampu ditahannya meloncat dari mulutnya.
“Ahhhh..Faizah..jangaaan!”desah Rif’ah spontan.
Seumur hidupnya baru pertamakali ini puting susunya dipilin sedemikian rupa yang sangat membangkitkan nafsu birahinya. Namun di satu sisi dia merasa merinding karena yang memilin puting susunya dengan lihainya adalah seorang akhwat seperti dirinya.
“Kita ke kamar aja mbak..”bisik Faizah begitu mesra kepada Rif’ah.
Entah kenapa Rif’ah terlihat pasrah ketika Faizah menariknya ke dalam kamar yang terletak di sebelah ruang Arsip. Kamar tersebut adalah salah satu kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istrirahat personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan bantal guling serta satu set meja dan kursi.
Dalam kamar tersebut, Faizah tidak serta merta merebahkan Rif’ah di pembaringan namun akhwat PKS yang cantik sekaligus seniornya di PKS itu disandarkan di dinding kamar. Tubuh Faizah memang lebih tinggi dan lebih besar di bandingkan tubuh Rif’ah sehingga Faizah terpaksa menundukkan wajahnya memandang wajah cantik yang berbalut jilbab putih yang lebar yanag kini tengah dipeluknya.
“Mbak Rif’ah cantik….aku udah lama nungguin yang kayak gini…mbak begitu cantik, tubuh mbak sintal..”ungkap Faizah sembari membelai wajah Rif’ah sementara akhwat PKS yang cantik ini hanya membelalakkan kedua matanya menatap Faizah dnegan tatapan yang sulit dimengerti. Deru nafas Faizah yang memburu terasa hangat menampar-nampar wajahnya.
Faizah kian mendekatkan wajahnya ke wajah Rif’ah hingga bibirnya menyentuh bibir akhwat PKS yang cantik ini membuat tubuh Rif’ah kejang. Rif’ah sempat melengos ketika bibir Faizah hendak melumat bibirnya, namun dengan cepat Faizah memburunya sehingga sesaat kemudian bibir Rif’ah yang ranum tersebut dapat dilumatnya dengan penuh nafsu. Tubuh Rif’ah semakin kejang dan sesaat kemudian akhwat PKS ini menggelinjang ketika lidah Faizah menyapu dan membelit lidahnya dengan lihainya. Seumur hidupnya barukali bibirnya dilumat dengan bernafsu oleh orang lain dan yang membuatnya terlihat bingung karena yang melumat bibirnya adalah seorang akhwat seperti dirinya.
Faizah tidak memperdulikan kebingungan Rif’ah karena dia mengetahui kalau akhwat PKS seniornya yang cantik ini masih dalam keadaan birahi, ketika tangannya yang kembali menyusup ke balik jilbab menemukan buah dada montok Rif’ah masih mengeras kencang. Bahkan ketika tangannya menyentuh putting susu akhwat PKS yang cantik ini, Faizah masih merasakan puting susu tersebut terasa masih kencang sehingga membuat Faizah dengan gemas memilinnya. Tubuh Rif’ah menggelinjang ketika kembali puting susunya dipilin-pilin Faizah sementara bibirnya terus melumat bibir akhwat PKS berwajah cantik ini dengan penuh birahi.
Tanpa melepaskan pagutannya serta dengan tangan masih bermain-main di dada Rif’ah, Faizah mendorong akhwat PKS yang cantik ini ke arah pembaringan dan merebahkannya di atas pembaringan tersebut. Rif’ah terengah-engah antara rasa nikmat dan kebingungan yang mencekamnya, sementara tatapan matanya nanar menatap Faizah yang berdiri di sisi pembaringan.
“Ayo mbak..kita bermain-main. Aku dah lama pengen ginian sama mbak”ujar Faizah sambil duduk di pembaringan.
Kedua tangan Faizah terulur ke tubuh Rif’ah lantas menyusup masuk ke balik jubah panjang yang dipakai akhwat PKS berparas cantik ini. Rif’ah tersentak dan secara refleks tangannya mencegah tangan Faizah namun akhwat PKS yuniornya ini hanya tersenyum penuh arti kepadanya. Tatapan dan senyuman Faizah itu membuat Rif’ah memahami bahaw gadis ini mempunyai kartu turf yang kana menghancurkan kariernya di PKS sbegaiamna Rikhanah. Akhirnya Rif’ah membiarkan tangan Faizah menggerayangi tubuhnya di balik jubah panjang yang dipakainya.

“Tenang mbak…..mbak tidak akan ternodai…keperawanan mbak Rif’ah tetap akan utuh”bisik Faizah ketika tangan gadis PKS ini telah sampai di selangkangan Rif’ah.
“Faizah….”desis Rif’ah tegang ketika dia merasakan jemari Faizah menyusup ke balik celana dalam yang dipakainya.Lantas jemari gadis PKS asal Jakarta ini menyusuri belahan bibir kemaluan Rif’ah ke atas dan ketika telah menyentuh kelentit Rif’ah, jemari Faizah seketika memilin bagian tubuh Rif’ah yang paling sensitif tersebut.
“Ahhhh….”desah Rif’ah menggelinjang ketika jemari Faizah memilin dan merangsang kelentitnya dengan luar biasa. Faizah tersenyum melihat reaksi Rif’ah dan reaksi tersebut membuatnya semakin bernafsu merangsang akhwat PKS yang cantik ini.
Faizah melepaskan kaus kaki krem yang membungkus kedua kaki Rif’ah dan diletakkannya di bawah pembaringan.Satu tangan Faizah masih mempermainkan kelentit Rif’ah sementara tangan lainnya mengelus-elus kaki akhwat PKS yang putih mulus itu. Bahkan kemudian Faizah membungkuk dan menciumi kaki Rif’ah dari jemarinya yang halus kemerahan terus merayap ke atas sembari menyingkap jubah panjang yang dipakai Rif’ah.

Rif’ah menggelinjang dan mendesah di tengah keterombang-ambingannya antara rasa nikmat oleh rangsangan Faizah dan nalurinya yang menolak dicabuli oleh sesama jenis. Faizah yang mempunyai kartu truf tentang kejelekan Rif’ah membuat Rif’ah tak kuasa melawan keinginan Faizah sehingga rasa birahilah yang akhirnya dominan terhadap diri akhwat PKS yang cantik ini walaupun dia menyadari yang merangsangnya adalah seorang akhwat seperti dirinya

Rif’ah membiarkan Faizah menyingkap jubah panjang yang dipakainya hingga ke pinggangnya. Akhwat PKS berwajah cantik ini juga hanya pasrah ketika setelah itu Faizah kemudian menciumi dan menjilati sekujur kakinya dari jemari kakinya lantas kedua betisnya hingga sepasang paha Rif’ah yang padat dan kencang membuat sekujur tubuh Rif’ah dari ujung kaki hingga pangkal pahanya basah kuyup oleh jilatan dan ciuman Faizah. Rif’ah pasrah terhadap segala yang Faizah lakukan terhadap dirinya.
Faizah tersenyum melihat Rif’ah yang kini dalam keadaan setengah telanjang didepannya. Mata akhwat PKS asal Bekasi ini membulat menatap kemaluan Rif’ah yang terlihat membukit terbungkus ketat oleh celana dalam warna krem..
“Faizah…jangan!”desis Rif’ah tertahan ketika tangan Faizah menarik turun  celana dalam krem yang dipakai akhwat PKS cantik ini.
Faizah tidak lagi menanggapi Rif’ah, ketika matanya telah melihat gundukan kemaluan Rif’ah telanjang di depannya.

Tubuh Rif’ah tersentak ketika dengan buas Faizah membenamkan wajahnya diantara kedua pahanya dan dalam hitungan detik, Rif’ah merasakan kemaluanya dikunyah oleh akhwat PKS yuniornya ini.Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Rif’ah namun akhirnya nafsu birahilah yang kemudian menguasai akhwat cantik ini. Rif’ah menggelinjang jalang dengan mulut yang mendesah dan merintih merasakan kelihaian jilatan dan sedotan Faizah pada bagian tubuhnya yang paling rahasia tersebut. Begitu mahirnya jilatan dan sedotan Faizah di kemaluan Rif’ah hingga membuat pantat akhwat PKS yang cantik ini terangkat ke atas setiap kali.
Dengan mulut masih mencumbu kemaluan Rif’ah, tangan Faizah menggerayangi bagian dada akhwat cantik ini. Tangan akhwat hitam manis ini kembali menyusup ke balik jubah panjang yang dipakainya melalui bagian atas jubahnya yang telah terbuka kancingnya sejak di ruang arsip lantas menelusup ke balik BH yang dipakai Rif’ah. Beberapa saat kemudian tangan Faizahpun telah meremas-remas kedua payudara montok di dada Rif’ah yang telah mengeras dan memilin-milin puting susu payuadara tersebut dengan gemas.
“Ahhh…ahhhhh..”rintih Rif’ah dirangsang sedemikian rupa oleh Faizah. Tubuhnya menggelinjang jalang dan kedua tangannya meremas-remas kepala Faizah di selangkangannya yang masih berjilbab sehingga membuat kusut jilbab yang dipakai akhwat anggota Santika ini.

Puas mengunyah daging kemaluan Rif’ah, Faizah beralih ke dada akhwat PKS yang cantik ini. Jilbab lebar yang dipakai Rif’ah disingkapnya hingga ke pundak lalu dikeluarkannya sepasang bukit montok di dada Rif’ah dari BH yang membungkusnya hingga terpampang di depan matanya. Faizah terpesona melihat sepasang payudara Rif’ah yang telanjang di depan matanya. Sebelumnya dia pernah sekali tak sengaja melihat payudara telanjang Rif’ah ketika akhwat ini berganti pakaian tapi itu hanya sesaat karena waktu itu Rif’ah segera menutupinya. Sekarang kedua payudara akhwat cantik ini terpampang di depannya dalam keadaan terangsang, sungguh sebuah pemandangan yang sangat menggiurkan.

Faizah segera menerkam menciumi dan menjilati kedua payudara Rif’ah secara bergantian. Dkunyah-kunyahnya payudara yang putih mulus itu hingga berbekas bilur-bilur kemerahan lantas disedotnya dan dipelintir puting susu yang tegak kemerahan tersebut dengan gemas membuat Rif’ah semakin jalang merintih oleh birahi yang melandanya. Tubuhnya menggelinjang liar dan mulutnya mendesah dan merintih menahan kenikmatan yang dirasakannya. Rif’ah tidak lagi terpikir bahwa yang merangsangnya adalah akhwat  seperti dirinya, yang ada dalam benaknya hanya kenikmatan yang baru pertamakali dirasakannya.
“Buka semua bajunya ya mbak…”desis Faizah puas menikmati payudara Rif’ah. Faizah lantas turun dari pembaringan tersebut dan tanpa menunggu jawaban Rif’ah, tangan akhwat PKS anggota Santika ini segera jilbab putih lebar yang dipakai Rif’ah  kemudian jubah panjangnya dan bh warna krem yang dikenakannya hingga akhirnya Rif’ah telanjang bulat. Faizah benar-benar terpesona melihat Rif’ah yang kini tergolek di pembaringan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Tubuh bugil Rif’ah begitu indah sehingga beberapa saat Faizah terpesona memnadnag sekujur tubuh bugil Rif’ah dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.
 Rif’ah membiarkan Faizah memandangi sekujur tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Akhwat cantik ini balas memandang Faizah ketika dia melihat Faizah kemudian juga mulai membuka pakaiannya. Pertama kali Faizah melepas sepasang kaus kakinya disusul jilbab lebar warna hijau yang dipakainya hingga terlihat rambutnya yang dipotong pendek seperti polwan. Setelah itu barulah Faizah melepas jubah panjang  warna coklat yang dipakainya sehingga  Faizah kini hanya terlihat memakai bh sementara bagian bawahnya memakai celana panjang warna coklat gelap. Rif’ah memang melihat Faizah adalah seoarang akhwat yang berotot bahkan payudaranya pun tergolong kecil.
Tanpa memperdulikan pandangan Rif’ah, Faizah melepas BH yang membungkus buah dadanya lalu celana panjang yang menutup bagian tubuhnya juga dilepas. Faizah ternyata tidak memakai celana dalam sehingga ketika celana panjang itu terlepas dari tubuhnya, Faizahpun bugil seperti Rif’ah. Rif’ah ternganga melihat tubuh Faizah bugil di depannya saat ini karena baru pertamakali ini dia melihat Faizah dalam keadaan bugil tanpa selembar benangpun di tubuhnya. Tubuh akhwat PKS yang satu ini memang terlihat perkasa walaupun di dadanya tumbuh sepasang payudara berukuran 32 dengan puting susu coklat gelap serta kemaluannya adalah kemaluan wanita, apalagi kulitnya yang coklat mengesankan keperkasaannya.  Satu hal yang tak diduga Rif’ah sebelumnya, ternyata Faizah mempunyai kemaluan dengan rambut yang lebat sehingga sebagian kemaluan Faizah yang cukup montok membukit itu tertutupi oleh lebatnya rambut kemaluannya.

Cerita seks Rif’ah tak sempat memikirkan lebatnya rambut kemaluan Faizah yang lebat tersebut lebih lama, karena Faizah segera naik ke pembaringan dan segera menindihnya. Sesaat Rif’ah sempat tersadar kalau yang mencumbunya adalah seorang wanita seperti dirinya, namun kesadaran itu tak sempat menguasainya Faizah segera merangsangnya kembali membuat Rif’ah kembali tenggelam dalam birahi. Dengan liar Faizah mencumbu Rif’ah, melumat bibir sensual Rif’ah, mengesekkan payudaranya dengan payudara Rif’ah, menempelkan bibir kemaluanya dengan bibir kemaluan Rif’ah lantas menggesek-gesekkannya. Deru nafas, desahan dan rintihan kenikmatan kedua gadis yang tenggelam birahi itu seakan tak putus terdengar disela-sela suara beradunya dua tubuh yang saling membelit. Rif’ah yang semula adalah akhwat PKS alim dan jauh dari perbuatan-perbuatan mesum larut dalam kenikmatan dan sensasi birahi yang dibawa Faizah.
Persetubuhan kedua gadis ini berakhir lewat dini hari. Rif’ah dan Faizah terkapar lemas di pembaringan. Tubuh bugil kedua gadis ini penuh dengan bilur-bilur warna merah bekas gigitan mereka masing-masing terutama tubuh Rif’ah yang berkulit putih mulus.
“Pulang sekarang atau besok pagi mbak?” tanya Faizah dengan nafas yang masih memburu satu-satu.
“Terserah Faizah aja, khan Faizah yang bawa motornya” jawab Rif’ah.
“Ya udah..besok pagi aja…kita tidur aja mbak..capek… berpelukan mbak..dingin” ujar Faizah sambil memeluk tubuh Rif’ah yang masih bugil  dengan mesra, kemudian dengan kakinya Faizah menarik selimut yang ada diujung pembaringan untuk menutupi mereka berdua.
Keesokan paginya ketika matahari telah terbit, sebuah sepeda motor yang dinaiki dua gadis berjilbab lebar yang tak lain Faizah dan Rif’ah terlihat keluar meninggalkan rumah yang dijadikan kantor DPD PKS.
“Mbak Rif’ah  mau ke kampus atau ke kost dulu?”tanya Faizah
“Ke kost dulu aja…”jawab Rif’ah datar seakan tak bergairah membuat Faizah mengerutkan keningnya
Pikiran akhwat PKS ini masih terbayang kejadian semalam. Dia serasa masih belum percaya kalau semalam dia telah melakukan persetubuhan dengan Faizah. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya antara perasaan merasa bersalah namun ternyata semalam dia sengat menikmati persetubuhan dnegan Faizah.
Faizah dapat merasakan kalau Rif’ah masih terguncang dengan kejadian semalam. Faizah bisa mengerti karena ketika pertamakali dia mengenal dunia lesbian juga terguncang sebelum akhirnya kecanduan. Faizah menyadari perbuatannya adalah perbuatan terlarang ketika dia ikut PKS dan dia berusah menghilangkannya namun hasratnya ternyata sulit dibendung ketika melihat kecantikan dan tubuh Rif’ah, akhwat seniornya di PKS yang di matanya mungkin bernilai 8. Tanpa diduganya, Rif’ah ternyata mudah sekali untuk dbawa bercinta seperti tadi malam. Betul-betul akhwat yang polos dalam masalah seks.
Hampir satu bulan sudah sejak peristiwa di DPD, Rif’ah masih terombang-ambing namun akhwat cantik ini tidak dapat menolak ketika Faizah tidur di kamarnya kemudian mengajaknya bercinta semalam suntuk. Seluruh akhwat penghuni kost itu tidak menaruh curiga apapun walaupun hampir tiap malam Faizah tidur di kamar Rif’ah karena mereka memang sama-sama perempuan. Mereka hanya melihat kedua akhwat itu kini semakin akrab sampai kemudian kedua akhwat itu datang pada sebuah kajian yang membahas mengenai fenomena lesbian. Saat itu wajah Rif’ah tersadar dengan kekeliruannya selama ini. Wajah akahwat cantik ini merah padam mendengar isi kajian yang mengutuk perilaku lesbian sementara Faizah cenderung untuk tidak mendengarkannya.
Sepulangnya dari kajian itu, Rif’ah mulai menjaga jarak dengan Faizah. Faizah yang merasa Rif’ah mulai berubah, berusaha menekan Rif’ah agar tidak meninggalkannya. Faizah sangat bernafsu kepada Rif’ah, akhwat cantik dnegan bau kemaluannya yang segar dan wangi dan dia tidak rela harus putus hubungan dnegan Rif’ah. Akhirnya Faizah harus melakukan ancaman fisik terlebih dahulu sebelum melampiaskan nafsunya kepada Rif’ah. Rif’ah sebagai seorang akhwat yang lembut dan lemah tak mampu melawan ancaman Faizah sehingga dengan terpaksa dia melayani nafsu Faizah yang menyimpang dari kodratnya.

Tak sampai setengah bulan kemudian, Rif’ah merasa tidak tahan terhadap paksaan Faizah untuk melayani nafsu seksualnya, sehingga akhwat ini berencana pindah kost. Rupanya Faizah mencium rencana Rif’ah pindah kost sehingga akhwat hitam manis ini menekannya agar tidak meninggalkan kost.Rif’ah yang ketakutan dengan ancaman Faizah akhirnya meminta perlindungan kepada Ummu Nida, mantan Kabid Kewanitaan DPD PKS yang kini duduk di DPW tingkat propinsi. Di matanya Ummu Nida adalah seorang ummahat yang keras, tegas dan berani. Ummahat berusia 30an dan telah mempunyai tiga anak itu memang pantas menjadi pemimpin akhwat PKS. Secara fisik Ummu Nida adalah seorang ummahat yang bertubuh besar padahal suaminya bertubuh kurus.
Sore itu sepulangnya dari kampus, Rif’ah tidak pulang ke kostnya namun pergi ke tempat Ummu Nida di sebuah perumahan di pinggiran kota. Akhwat ini bertekad untuk menceritakan semua yang telah dilakukannya bersama Faizah sekaligus minta perlindungan dari paksaan Faizah kepadanya. Sesampainya di rumah Ummu Nida, Rif’ah heran ketika melihat beberapa sepeda motor yang terparkir di rumah tersebut. Dilihatnya Abu Nida, suami Ummu Nida sedang duduk di teras bersama anak mereka yang terkecil yang baru berusia 2 tahun.

Setelah salam, Rif’ah menanyakan Ummu Nida kepada Abu Nida’
“Masuk aja….lagi pada senam di halaman belakang”
             Senam? Kening Rif’ah berkerenyit heran. Namun tak bertanya-tanya lagi, akhwat PKS ini  masuk ke rumah langsung ke halaman belakang. Sesampainya di halaman belakang, Rif’ah tertegun rupanya senam itu telah selesai ketika dia melihat Ummu Nida dan kurang lebih 15 wanita berpakaian sneam yang sexy terlihat duduk kelelahan. Rif’ah terlihat kaget melihat Ummu Nida dan lainnya memakai baju senam yang sexy itu. Rif’ah hampir tidak mengenali para ummahat yang yang memakai pakaian senam yang sexy karena sebelumnya Rif’ah melihat mereka dengan jilbab lebar dan jubah panjang. Kemunculan Rif’ah langsung disambut hangat oleh Ummu Nida dan beberapa ummahat lainnya yang mengenalnya.
“Ooo dik Rif’ah….bunga tercantik di PKS datang berkunjung!” seloroh Ummu Nida membuat Rif’ah tersipu-sipu.
Rif’ah kemudian bersalaman dengan seluruh ummahat sambil saling menempelkan pipi.
“Senam apaan  mbak?” tanya Rif’ah.
“Senam Ummahat, kalau anti sih nggak perlu, tubuh anti khan masih sexy dan sintal nah kalo kami-kami yang sudah punya anak ini ya harus berupaya agar tubuh-tubuh kami tetap sintal dan menggiurkan bagi suami…”jawab Ummu Nida.
“Ah..bisa aja..tubuh mbak juga sintal dan montok” balas Rif’ah sambil memandang sekujur tubuh Ummu Nida yang masih berbalut pakian senam yang ketat.
Ummu Nida memang mempunyai tubuh yang sintal dan montok. Walaupun sudah mempunyai tiga anak, perutnya terlihat rata. Buah dadanya montok mungkin berukuran sekitar 36 dengan pantat yang bahenol. Wanita berkulit kuning langsat yang masih terlihat kencang ini mempunyai wajah yang cukup cantik walaupun sudah tidak terlihat muda lagi. Rif’ah perkirakan usia Ummu Nida sekitar 33 tahun.
Melihat Ummu Nida, Rif’ah teringat Faizah. Rif’ah bisa membayangkan reaksi Faizah bila melihat Ummu Nida dalam balutan pakaian senam seperti sore ini.
“Nunggu dulu yah…pada mau kemas-kemas” ujar Ummu Nida yang dijawab anggukan Rif’ah.
Rif’ah melihat kesibukan Ummu Nida dan ummahat lainnya yang berkemas-kemas. Rif’ah memang baru tahu kalo ada senam Ummahat seperti ini jadi memang bukan isapan jempol kalau ada berita bahwa kebanyakan ummahat PKS mempunyai tubuh yang sintal dan bahenol. Dalam waktu beberapa menit kemudian para ummhat PKS yang semula masih berbalut pakaian senam kini kembali terlihat dengan jubah panjang dan jilbab lebar. Melihat ummahat tersebut kembali memakai pakaian tersebut, Rif’ah baru mengenali dengan jelas satu persatu ummahat yang datang dan rupanya banyak ummahat yang dikenalnya.
“Itu guru senamnya?”tanya Rif’ah kepada Ummu Nida ketika melihat seorang wanita yang tidak berjilbab terlihat sexy dengan jeans dan kaos ketat.

“Ya…namanya Venny..guru senam di sanggar senam dekat kantor DPW. Kita sewa untuk melatih kita” jawab Ummu Nida.
Tak lama kemudian rumah Ummu Nida pun kembali sepi, setelah satu persatu ummahat itu pulang ke rumah mereka.
“Ada apa dik, kelihatan banyak masalah..jadi nginep khan seperti dalam sms tadi?”tanya Ummu Nida
Rif’ah mengangguk
“Nanti malam ya mbak….Rif’ah capek banget”
Ummu Nida mengangguk mengerti, lalu diantarkannya gadis ini ke kamar yang disiapkan.
“Nida dan Yasmin lagi liburan di rumah neneknya, jadi dik Rif’ah bisa tidur di kamar ini” kata Ummu Nida sambil mengantarkan gadis ini ke kamar kedua anaknya. Rif’ah mengangguk dan baru mengerti kenapa sejak tadi tidak melihat Nida dan Yasmin dan hanya melihat anak terkecil Ummu Nida yang digendong Abu Nida di teras.
“Makasih mbak” kata Rif’ah.
Malam harinya, Ummu Nida terkejut luar biasa mendengar penuturan Rif’ah mengenai hubungannya dengan Faizah namun Rif’ah tidak menceritakan kalau dia juga menikmati hubungan sesama jenis tersebut. Wajah Ummu Nida merah padam mendengar penuturan Rif’ah yang menuturkan sambil terisak.
“Rif’ah menyesal mbak….tapi Faizah terus mengancam dan menekan. Rif’ah tidak berani”
“Kalau begitu Faizah harus keluar dari kost akhwat tersebut, dia berbahaya buat akhwat PKS lainnya baru sabuk hijau saja sudah banyak tingkah” ujar Ummu Nida tampak geram. Rif’ah memang mendengar kalau Ummu Nida sebelum menjadi akhwat adalah mantan atlit karateka propinsi dan sudah sampai sabuk hitam, tapi dia tidak mengerti masalah sabuk-sabuk tersebut sehingag dia tidak tahu maksud ucapan Ummu Nida.

“Sekarang dik Rif’ah istirahat dulu aja…nggak papa. Biar mbak yang bereskan Faizah itu” desis Ummu Nida mirip perintah.
Mendengar ucapan Ummu Nida itu, Rif’ah pun segera pamit ke kamar yang terletak di sebelah kamar Ummu Nida dan suaminya..
Di kamar tempat dia berbaring itu, Rif’ah gelisah. Ada sedikit rasa penyesalan menceritakan masalahnya kepada Ummu Nida, khawatir menjadi konsusmi public di kalangan akhwat PKS namun kemudian penyesalan itu ditepisnya karena dia yakin Ummu Nida akan bertindak yang terbaik untuknya. Apalagi setelah Rif’ah masuk ke kamar, dia mendengar pembicaraan Ummu Nida dan suaminya berkisar masalah Faizah bukan dirinya. Namun kelelahan yang mencengkamnya membuat Rif’ah tak lama mendengar pembicaraan itu karena kemudian dia tertidur pulas.
Tengah malam Rif’ah terbangun  ketika dia mendengar suara canda dan ketawa-ketawa dari kamar sebelahnya yang tak lain adalah kamar Ummu Nida dan suaminya. Rif’ah memahami sehingga diapun kembali berusaha tertidur namun ternyata suara-usra itu kemudian mengganggunya sehingga membuatnya sulit tertidur apalagi setelah terdengar suara-suara aneh dari kamar tersebut di sela-sela canda suami istri tersebut. Suara tersebut membuat Rif’ah gelisah dan benaknya tanpa sadar membayangkan apa yang tengah terjadi di kamar sebelah antara Ummu Nida dan suaminya. Bayangan tersebut terhenti ketika kemudian Rif’ah merasa ingin buang air kecil.

Cerita seks Dengan hati-hati dan pelan, Rif’ah keluar kamar menuju ke WC. Suasana ruangan di luar kamar remang-remang karena lampu di ruangan tersebut telah dimatikan dan Rif’ah tidak tahu tempat saklar lampu. Namun cahaya lampu dapur yang dibiarkan menyala membantu Rif’ah berhasil sampai ke WC. Setelah menuntaskan hajatnya, Rif’ah segera kembali ke kamarnya. Ketika Rif’ah hendak membuka pintu kamar tempat dia tidur, terdengar kembali suara-suara dari kamar Ummu Nida. Suara ketawa, dengusan dan suara-suara aneh membuat Rif’ah berdebar-debar. Tanpa sadar benak Rif’ah teringat film porno yang ditontonnya di warnet beberapa waktu yang lalu. Dada akhwat PKS ini berdegup kencang ketika kemudian matanya melihat seberkas sinar keluar dari lubang kunci pintu kamar Ummu Nida. Rif’ah mengurungkan niatnya masuk ke kamar, akhwat PKS ini justru menempelkan matanya ke lubang kunci tersebut dan sedetik kemudian bola mata Rif’ah membelalak lebar melihat pemandangan yang dilihatnya melalui lubang kunci tersebut. Tubuh gadis cantik ini gemetar

 www.ceritasexsualpanas.blogspot.com Baca kisah selanjutnya disini RIFA 2 – Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Mesum Ngentot –


Tidak ada komentar:

Posting Komentar