Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Ngentot Terbaru – Cerita HOT – Cerita mesum seorang pks yang tidak dapat membendung gairah
sexualnya dengan judul “ RIFA 1 ” yang tidak kalah serunya dan dijamin dapat meningkatkan libido seks, selamat menikmati.
Cerita seks Sopir
taksi yang dihampiri Rif’ah tersebut tengah berada di warung dan dia
belum sempat menghabiskan teh botol yang ada di tanganya ketika dia
melihat seorang gadis berjilbab lebar terlihat tergesa-gesa keluar dari
warnet. Sopir taksi ini sempat terpesona oleh kecantikan wajah gadis
berjilbab lebar yang kemerah-merahan tersebut namun dia segera
meninggalkan teh botolnya ketika dia melihat gadis itu menuju ke arah
taksinya
“Taksi mbak?”tanya seorang laki-laki berseragam sopir taksi tersebut mengejutkan Rif’ah.
“Ya pak…buruan!”jawab Rif’ah gugup.
“Silahkan mbak…” ujar sopir taksi ini sembari membuka pintu belakang taksinya mempersilahkan Rif’ah masuk ke dalam taksinya.
Rif’ah
bergegas masuk ke dalam taksi dengan membungkuk diiringi tatapan sopir
taksi. Akhwat PKS ini tidak sempat menyadari ketika mata sopir taksi ini
berbinar melihat dirinya masuk ke dalam taksinya..
“Pantat
yang bahenol”desis sopir taksi ini sambil menyeringai melihat pantat
Rif’ah yang terlihat menggiurkan ketika akhwat PKS ini membungkuk masuk
ke dalam taksinya.
Jubah
coklat susu yang dipakai Rif’ah bukan tergolong jubah yang tebal
sehingga belahan pantat Rif’ah yang bundar dan bahenol itu cukup jelas
tercetak saat dia membungkuk masuk ke dalam taksi. Darah sopir taksi ini
mendadak berdesir kencang ketika kemudian dia melihat cetakan celana
dalam yang biasanya tampak, saat ini tidak terlihat pada jubah yang
dipakai akhwat PKS ini.
“Apa
nggak pakai celana dalam yah?” tanya sopir taksi dalam hati. Dan sopir
taksi ini tak dapat menahan tangannya untuk meraba dan mengelus pantat
montok Rif’ah dan bundar tersebut, ketika akhwat PKS ini masuk ke dalam
taksinya. Bahkan jarinya sempat menyusuri belahan pantat Rif’ah selama
beberapa detik yang membuatnya yakin kalau gadis berpakaian rapat
tertutup yang menjadi penumpangnya sore ini memang tidak memakai celan
dalam.
Rif’ah
yang masih kalut oleh kejadiann warnet tidak menyadari tangan sopir
taksi ini yang meraba dan mengelus pantatnya bahkan menyusuri belahan
pantatnya ketika dia masuk ke dalam taksi. Benaknya hanya berpikir untuk
segera meninggalkan warnet yang telah membuatnya sangat malu tersebut.
“Ke mana mbak?”tanya sopir taksi yang sekarang telah berada di belakang kemudi.
Rif’ah menyebut sebuah tempat dan sesaat kemudian taksi itupun meninggalkan warnet yang telah membuat akhwat PKS ini malu.
Dalam
taksi ber AC tersebut, Rif’ah menarik nafas dalam-dalam. Matanya
terpejam sambil mengatur jantungnya yang berdebaran tidak karuan. Akhwat
PKS ini tidak menyangka hari ini semuanya menjadi jelek dan semuanya
berawal dari keinginannya untuk membuktikan website-website cabul yang
melecehkan akhwat justru berakhir dengan sesuatu yang memalukan bagi
akhwat seperti dirinya. Terbayang kembali kejadian-kejadian yang
dilakukkanya beberapa saat yang lalu di warnet. Ada penyesalan yang
menyelinap di hati akhwat PKS berwajah lembut dan cantik atas segala
yang dia lakukan dalam box warnet tersebut. Rif’ah tersadar kembali
dengan segala doktrin moral yang selama ini didapatnya serta statusnya
sebagai seorang akhwat PKS. Memang tidak semua akhwat PKS mempunyai
moral yang bagus bahkan beberapa akhwat PKS yang dikenalnya mengakui
sering bermasturbasi, akan tetapi sejelek apapun moral seorang akhwat
PKS mestinya harus terlihat lebih baik daripada wanita lainnya.
“Mbak dari PKS yah?” tanya sopir taksi tiba-tiba yang membuat Rif’ah kaget.
“Iya Pak” jawab Rif’ah pendek;” kenapa pak?
“Nggak..nggak
papa…saya suka PKS banyak perempuannya dan perempuannya cantik-cantik
he..he..he” jawab supir taksi ini sambil terkekeh.
Rif’ah
terdiam sambil mengerutkan kening mendengar ucapan sopir taksi ini yang
terasa mesum dan cabul, tanpa sadar bulu kuduk akhawat PKS ini
merinding. Mendadak Rif’ah merasa tidak suka kepada sopir taksi ini dan
merasa malas melayani obrolan sopir taksi ini dan firasatnya mengatakan
bahwa dia harus berhati-hati dengan sopir taksi ini.Akhwat PKS ini
teringat beberapa kejahatan yang dilakukan oleh sopir taksi di Jakarta
seperti beberapa berita yang dibacanya namun dia ragu kalau di kota ini
akan terjadi kejahatan seperti ini apalagi saat ini masih sore yang
terang dan di tengah keramaian kota.
Untuk
mengurangi kegelisahannya, Rif’ah mengambil MP4 player miliknya dan
melalui headset yang dihubungkan dengan MP4 Player tersebut, akhwat PKS
ini mendengarkan nasyid dari kelompok nasyid Snada yang sangat
disukainya. Dengan posisi duduk setengah rebah dan memejamkan mata,
Rif’ah menikmati alunan nasyid yang merdu tersebut sehingga membuat
gejolak birahi dan kegelisahannya perlahan kemudian mereda. Beberapa
kali kepala akhwat PKS ini bergoyang mengikuti irama nasyid yang
didengarnya terlena oleh kelompok nasyid bersuara emas tersebut.
Berbeda
dengan Rif’ah, birahi sopir taksi yang mulai merasa akhwat PKS ini
tidak menyukainya justru mulai bergejolak setelah dia meraba pantat
montok Rif’ah ketika akhwat PKS ini masuk ke dalam taksinya. Bukan saja
karena dia merasakan kenyalnya pantat montok gadis berjilbab lebar ini
atau terpesona kecantikan wajah gadis berjilbab lebar ini, namun yang
lebih membuatnya birahi adalah dia yakin bahwa gadis berjilbab lebar ini
tidak memakai celana dalam dibalik jubah panjang coklat susu yang
dipakainya. Tubuh sopir taksi ini menjadi gelisah menahan birahi yang
membuat kontolnya perlahan kemudian mulai tegak mengeras teringat ketika
tangannya menyusuri belahan pantat montok akhwat PKS ini yang tercetak
cukup jelas di jubah panjangnya.
Melalui
spion dalam kabin taksinya, sopir taksi ini melirik ke arah Rif’ah dan
dia melihat gadis berjilbab lebar ini tampak duduk setengah rebah
sembari mendengarkan sesuatu. Kedua matanya tertutup dan kadangkala
kepala gadis berjilbab lebar ini bergoyang mengikuti alunan yang
didengarnya. Sopir taksi ini menelan ludah melihat kecantikan paras
penumpangnya sore ini. Selama ini dia memang tertarik dengan PKS dan
kerapkali ikut kegiatan PKS terutama demo-demo yang dilakukan mereka.
Sopir taksi ini tertarik kepada PKS bukan karena partainya tapi karena
banyaknya perempuan di partai tersebut dan kebanyakan para perempuan PKS
berparas menawan. Paras cantik menawan namun sekujur tubuhnya
tersembunyi dalam pakaian yang rapat tertutup hanya menyisakan
bagian-bagian tubuhnya yang menonjol dna membukit sungguh membuatnya
penasaran terobsesi dengan para perempuan di PKS. Baginya sebuah
keberuntungan yang besar memperoleh penumpang salah seoarang perempuan
PKS berwajah cantik yang sintal.
Sampai
di sebuah perempatan besar, lampu lalulintas menyala merah sehingga
membuat taksi yang dinaiki Rif’ah berhenti, namun Rif’ah yang masih
asyik dalam alunan nasyid tidak menyadarinya. Sopir taksi itu kembali
melirik Rif’ah melalui spion dalam kabin taksinya dan dia melihat
penumpangnya masih terpejam. Sopir taksi ini akhirnya terdorong untuk
melihat akhwat PKS ini secara langsung tanpa melalui kaca spion sehingga
dia kemudian membalikkan tubuhnya ke arah tempat duduk Rif’ah. Mata
sopir taksi membesar melihat kecantikan wajah akhwat PKS yang menawan
ini namun sekian detik kemudian detak jantung sopir taksi ini seakan
berhenti ketika matanya menyusuri sekujur tubuh Rif’ah terhenti di
bagian bawah akhwat PKS ini.
“Ohhh…”desah sopir taksi ini dengan mata melotot menatap bagian bawah akhwat PKS ini.
Rif’ah
yang duduk setengah rebah dalam taksi membuat posisi pinggulnya lebih
rendah daripada kedua lututnya dan membuat ujung jubah yang dipakianya
tertarik ke atas hingga setengah betisnya terlihat.
Sopir
taksi yang tengah dilanda birahi ini menelan ludah melihat sepasang
betis Rif’ah yang indah walaupun kedua betis akhwat PKS yang terlihat
separuh tersebut masih memakai kaus kaki krem yang panjang. Akan tetapi
yang membuat birahi sopir taksi ini menggelegak ketika dilihatnya kedua
kaki Rif’ah membuka dan dengan posisi duduk yang posisi pinggulnya lebih
rendah daripada kedua lututnya dan ujung jubah yang tertarik ke atas
membuat sebagian paha mulus akhwat PKS berkulit putih ini terpampang di
depan mata sopir taksi ini.
Rif’ah
dengan mata masih terpejam terlihat masih asyik dengan nasyid yang
sedang dinikmatinya. Pada saat itupula Rif’ah ingin duduk lebih rileks
sehingga akhwat PKS yang belum menyadari perbuatan sopir taksi yang
dinaikinya saat ini, beberapa saat kemudian justru membuka kedua pahanya
di depan mata sopir taksi yang tengah birahi ini
“Ohhhh”desah
sopir taksi yang kini tidak sekedar melihat sebagian paha Rif’ah yang
putih mulus namun dengan posisi duduk yang seperti itu selangkangan
akhwat PKS ini dapat terlihat dari tempat duduk sopir taksi ini terlebih
sorot matahari yang masih putih ke arah Rif’ah, membuat selangkangan
akhwat PKS ini terlihat sangat jelas di mata sopir taksi ini.. Laki-laki
berusia 30an yang belum lama menikmati kemulusan sebagian paha Rif’ah
menjadi gemetar melihat pemandangan di depan matanya yang sangat
merangsang libidonya. Bukan hanya sekedar kemulusan paha Rif’ah yang
berkulit putih ini yang terlihat, namun kemaluan gadis berjilbab lebar
yang cantik ini terpampang sangat menggiurkan. Keyakinannya ternayata
terbukti bahwa gadis berjilbab lebar dengan pakaian rapat tertutup
memang tidak memakai celana dalam.
Walaupun
sopir taksi ini belum beristri namun dia sudah puluhan kali dia bermain
dengan WTS sehingga melihat kemaluan seoarang wanita bukanlah sesuatu
nyang istimewa baginya. Akan tetapi kemaluan Rif’ah yang kali ini
terpampang di depannya adalah kemaluan wanita terindah yang dilihatnya
sepanjang hidupnya. Kemaluan akhwat PKS berkulit putih ini terlihat
terawat dan tampak mulus membukit dengan bibir kemaluan yang merekah
kemerahan serta bersih dari bulu-bulu kemaluan berbeda 180 derajat
dengan kemaluan para WTS yang sering dikencaninya.
Sopir
taksi ini seakan masih belum dipercaya, bahwa sore ini dia dapat
melihat bagian tubuh paling rahasia dari seorang akhwat PKS yang selama
ini hanya dapat dikhayalkan saja. Birahi sopir taksi ini semakin
menggelegak dan karena dorongan libidonya tersebut, tangan sopir taksi
yang sebelumnya sempat mengelus belahan pantat Rif’ah dari luar jubahnya
itu secera spontan terulur mengelus paha putih mulus akhwat PKS ini dan
akhirnya meremas bukit kemaluannya yang sangat menggiurkan tersebut.
Sopir taksi ini merasakan paha Rif’ah yang putih mulus ini terasa
kencang dan begitu halus. Ketika tangannya sampai di selangkangan akhwat
PKS ini, kemaluan gadis berjilbab lebar ini segera diremas-remasnya
penuh nafsu dengan jemari yang mengorek bibir kemaluan yang kemerahan
tersebut. Birahi yang menggelegak ini rupanya telah membuat sipor taksi
ini kehilangan akal sehatnya.
Perbuatan
cabul sopir taksi ini sedetik kemudian membuat Rif’ah terperanjat
sehingga keasyikannya menikmati alunan nasyid buyar dan secara refleks
akhwat PKS ini membuka kedua matanya.
“Aiihhhhhh!!”
pekik Rif’ah terkejut ketika melihat tangan sopir taksi ini telah
menyusup ke balik jubahnya dan akhwat PKS ini merasakan tangan sopir
taksi tersebut kini telah meremas bagian tubuhnya yang paling sangat
dijaga selama ini bahkan gadis ini juga merasakan jemari sopir taksi ini
mulai mengorek bibir kemaluannya. Seketika itu pula Rif’ah meronta
membuat sopir taksi ini terkejut dan segera menarik tangannya dari
sela-sela paha akhwat PKS yang tengah diraba-rabanya. Bersamaan itupula
lampu lalu lintas menyala hijau sehingga sopir taksi ini segera kembali
ke belakang kemudi seperti semula dengan nafas yang masih memburu oleh
birahinya dan wajah yang merah padam.
Rif’ah
yang kini tersadar dengan keadaannya mulai diliputi rasa takut yang
luar biasa terhadap sopir taksi tersebut. Wajah cantik akhwat PKS ini
menjadi pucat pasi dan tanpa berpikir panjang lagi, Rif’ah segera
membuka pintu taksi yang mulai melaju tersebut dan segera meloncat
keluar. Rif’ah yang tiba-tiba berada di tengah jalan yang ramai tersebut
segera disambut klakson bersahut-sahutan bahkan umpatan dari beberapa
pengguna kendaraan lainnya kepada akhwat PKS ini. Tubuh Rif’ah terasa
lemah lunglai ketika akhirnya dia berhasil sampai ke tepi jalan sehingga
untuk beberapa saat akhwat PKS ini hanya mampu duduk di trotoar. Mata
akhwat PKS ini nanar menatap taksi yang semula membawanya meluncur
dengan cepat ke arah utara meninggalkan perempatan tersebut.
“Ada apa mbak?” tanya seseorang dengan ramah namun mengejutkan Rif’ah.
Rif’ah
segera berdiri ketika dia melihat yang bertanya kepadanya adalah
seorang laki-laki berseragam polisi lalu lintas. Polisi ini memang
tertarik dengan bunyi klaskson bersahut-sahutan ketika dia melihat
seorang gadis berjilbab lebar berwajah pucat pasi keluar dari taksi dan
bergegas belari ke pinggir di tengah keramaian lalu lintas.
“Eh..nggak ada apa-apa pak…”jawab Rif’ah
Cerita seks Sempat
terlintas keinginan pada diri gadis ini untuk melaporkan pelecehan
seksual yang dialaminya dalam taksi kepada polisi tersebut, namun niat
itu kemudian diurungkannya karena dia sendiri merasa malu. Untuk
beberapa saat Rif’ah berbasa-basi kepada polisi tersebut sebelum
akhirnya dia berjalan ke arah selatan perempatan tersebut dengan langkah
gontai. Tas miliknya masih berada dalam taksi dan karena dia turun dari
taksi tergesa-gesa sehingga tas miliknya yang berisi diktat-diktat
skripsi dan belanjaan di Swalayan Kopma serta beberapa eksemplar majalah
Ummi terbaru yang dipesan akhwat di tempat kost, tak sempat dibawanya
Untunglah beberapa benda penting seperti dompet, flashdisk, MP4 Player
dan HP berada dalam saku jubahnya sehingga kemudian melalui HP tersebut,
Rif’ah mengontak Faizah untuk menjemputnya.
Kebetulan
perempatan tempat akhwat PKS ini turun dari taksi letaknya tidak
terlalu jauh dari tempat kost sehingga tak sampai 15 menit Rif’ah
menunggu Faizah telah muncul dengan mengendarai sepeda motor.
“Sudah
lama nunggunya mbak?” sapa Faizah yang sore ini memakai baju panjang
warna hijau tua dan jilbab lebar warna hijau muda dengan kaus kaki yang
sewarna dengan kaus kaki yang dipakai Rif’ah.
“ Belum kok….ayo cepetan” jawab Rif’ah sambil meloncat ke boncengan Faizah.
Faizah
tersenyum, entah kenapa dia selalu berdebar-debar bila memboncengkan
Rif’ah, akhwat seniornya yang paling cantik di matanya apalagi bila
tangan Rif’ah melingkar di pinggangnya.
Faizah
adalah seorang akhwat PKS yang baru berusia 21 tahun asal Jakarta. Di
kota ini dia kuliah di salah satu PTS yang cukup punya nama. Baru di
kota ini dia mengenal PKS dan kemudian menjadi kader wanita partai
tersebut padahal semasa SMA, Faizah adalah seorang gadis tomboy dan luar
biasa badung. Nama Faizah yang sebenarnya adalah Femmy namun setelah
dia menjadi akhwat PKS, dia merubah namanya. Berbeda dengan Rif’ah yang
nama tersebut memang nama lahirnya. Salah satu kelebihan gadis hitam
manis yang bertubuh kekar untuk ukuran perempuan ini adalah kemampuan
beladiri yang cukup tinggi sehingga tak heran dia direkurt sebagai
anggota santika (Barisan Putri Keadilan) semacam satgas wanita di
kalangan PKS. Rif’ah selama ini merasa aman bila berjalan bersama
Faizah. Beberapa kali Faizah melindunginya dari berbagai gangguan bahkan
suatu saat Rif’ah pernah kecopetan namun dengan sigap Faizah membekuk
pencopet tersebut.
Hanya
ada satu hal yang mengganjal di benak Rif’ah dengan tingkah akhwat
yuniornya ini. Rif’ah merasakkan Faizah sangat perhatian kepada dirinya
dan seringkali memuji kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya walaupun
seingat dia belum pernah sekalipun dia telanjang di depannya. Sebenarnya
Faizah juga berwajah tidak terlalu jelek, akan tetapi jika dibandingkan
Rif’ah masih kalah jauh apalagi kulit akhwat asal Jakarta ini berwarna
cokelat. Namun beberapa lama setelah bergaul dengan Faizah, Rif’ah
menganggapnya biasa karena memang banyak akhwat yang memuji kcantikan
alamiah yang dimilikinya bahkan jutsru membuat Rif’ah tersanjung dan
menambah kian dekat dengan akhwat PKS yang satu ini, terlebih setelah
Faizah menjadi salah satu penghuni kostnya sejak 4 bulan yang lalu.
Tak
lama kemudian kedua akhwat PKS ini sampai di tempat kost mereka yang
terletak di tengah pemukiman penduduk. Rif’ah yang masih shock dengan
rentetan kejadian yang dialaminya setelah mebersihkan dirinya hari ini
segera masuk ke kamarnya dan tidak bercanda dengan akhwat lainnya
sebagaimana biasa. Faizah dan beberapa akhwat penghuni kost tersebut,
yang sedianya hendak membahas masalah Rikhanah dengan Rif’ah menjadi
segan. Mereka melihat Rif’ah begitu letih dan wajahnya yang cantik itu
terlihat pucat pasi ketika mereka menanyakan keadaanya Rif’ah hanya
menjawab bahwa dirinay sangat letih dan ingin banyak istirahat. Akhwat
PKS ini juga menceritakan kalau tas milknya diambil orang sehingga
majalah Ummi titipan dari mereka ikut hilang dan dia berjaji untuk
menggantinya esok hari. Tentu saja semua akhwat tidak mau diganti justru
mereka bersimpati dengan Rif’ah, bahkan Faizah sempat menggeram kesal
mendengarnya.
Pagi
harinya seusai sarapan, Rif’ah terlihat segar kembali walaupun akhwat
PKS ini lebih sering terlihat termenung daripada biasanya. Hari ini
kebetulan libur nasional sehingga aktivitas kampus juga ikut libur akan
tetapi Rif’ah bermaksud mencari literature di perpustakaan kampus
sehingga pagi ini dia tetap berkemas-kemas berangkat ke kampus. Mendadak
HP miliknya berbunyi nyaring dan terlihat nama Ummu Nida yang
terpampang di layer HPnya. Rif’ah segera mengangkatnya sambil
mengucapkan salam.
“Dik
Rif’ah, tolong pagi ini ke kantor DPD ada rapat kecil di bidang
kewanitaan” ucap suara di seberang seusai menjawab salam Rif’ah.
“ Jam berapa mbak?”
“Ya..sekitar jam 8…Faizah diajak aja”
“Ya mbak” jawab Rif’ah sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan angka 7.30.
Ummu
Nida adalah ketua bidang kewanitaan di DPD PKS daerah ini. Ummahat
berusia 33 tahun dan telah berputra tiga itu memang layak menjadi ketua
bidang kewanitaan selain keseniorannya di PKS juga kecerdasan dan
integritasnya terhadap PKS sangat mengesankan, sehingga khabar yang
didengarnya dia akan dipromosikan menjadi pengurus di DPW tingkat
propinsi. Rif’ah yang menjadi ketua salah satu divisi di bawah kabid
kewanitaan seringkali terbantu oleh Ummu Nida dalam tugas-tugasnya.
“Sudah siap mbak?”
Rif’ah terkejut ketika tiba-tiba Faizah muncul di pintu kamarnya.
“Lho anti sudah tahu?”tanya Rif’ah sembari tersenyum.
“Ya..tadi
malam Ummu Nida ke sini bersama suaminya, tapi mbak Rif’ah suah tidur
dan kata Ummu Nida nggak usah dibangunkan. Sekalian aja masalah Rikhanah
aku sampaikan dan bukti-buktinya aku sampaikan pula”
“Oh” ujar Rif’ah tertegun mendengarnya.
Rikhanah
adalah akhwat PKS yang dipercaya menjabat salah satu bagian divisi di
bidang kewanitaan di DPD PKS seperti dirinya. Rif’ah tak bisa
berkomentar lagi kalau masalah Rikhanah sudah sampai ke Ummu Nida yang
terkenal tegas mengenai moral akhwat PKS.
Sesaat
kemudian dua akhwat PKS itu meluncur ke kantor DPD PKS yang terletak
sekitar 7 km dari tempat kost mereka. Semula kedua akhwat PKS itu
menyangka cuman rapat kecil sehingga mereka berdua mengira yang dating
sedikit, tapi sesampainya di kantor DPD ternyata akhwat dan ummahat yang
datang cukup banyak. Rif’ah tidak menyangka ternyata hari ini ada acara
perkenalan ketua bidang kewanitaan DPD PKS yang baru setelah Ummu Nida
naik ke DPW tingkat propinsi. Setelah acara perkenalan tersebut barulah
diadakan rapat kecil internal di kalangan Bidang Kewanitaan.
Ketua
bidang kewanitaan DPD PKS yang baru merupakan orang baru di DPD akan
tetapi orang lama di PKS. Namanya Mufidah berusia 32 tahun dan telah
mempunyai dua anak. Ummahat ini belum lama tinggal di kota ini setelah
pindah dari Jakarta mengikuti suaminya yang dipindah tugas di kota ini
namun penunjukkan dia sebagai kabid kewanitaan DPD atas petunjuk dari
DPP PKS di Jakarta.
“Cantik ya mbak”komentar Faizah melihat Kabid Kewanitaan yang baru tersebut.
Rif’ah
tersenyum mendengarnya. Memang Mufidah adalah seorang ummahat PKS
berwajah cantik apalagi di usianya yang matang membuat wanita ini
semakin terlihat memikat.
“Tapi secara obyektif, kecantikan mbak Mufidah masih di bawah Mbak Rif’ah”sambung Faizah yang membuat Rif’ah tertawa.
Seusai
perkenalan tersebut, rapat yang dimaksud baru dimulai dengan dipimpin
Mbak Mufidah dan didampingi oleh Ummu Nida. Dua jam kemudian disusul
dengan rapat-rapat masing-masing divisi di bawah Bidang Kewanitaan
sehingga berakhir ketika hari mulai senja. Rif’ah dan Faizah berbeda
divisi sehingga rapat mereka tidak sama.Rif’ah melihat rapat divis
Faizah tampaknya belum selesai sehingga terpaksa Rif’ah menunggu
selesainya rapat tersebut.
“Agaknya kita pulang malam mbak”ujar Faizah ketika rapatnya break untuk makan malam.
“Ya nggak papa…toh nggak ada yang dikerjain juga” sahut Rif’ah yang akhirnya ikut makan malam bersama anggota divisi Faizah
Memang
tinggal divisi Faizah yang belum selesai rapat ketika jam menunjukkan
pukul 8 malam. Dari 10 akhwat yang ikut rapat di divisi Faizah cuman dua
akhwat yang masih gadis sedangkan sisanya adalah para ummahat sehingga
Rif’ah yang menunggu rapat itu selesai di runag tamu menjadia risih
ketika kemudian bermunculan suami-suami para ummahat tersebut untuk
menjemput istri-istri mereka yang masih rapat, sedangkan Shafiyyah yang
masih gadis juga telah ditunggui oleh adik laki-lakinya. Rif’ah terpaksa
menyingkir ke dalam dan akhirnya akhwat ini memilih ruang arsip yang
relatif sepi.
Di
ruang arsip itulah tanpa diduga Rif’ah menemukan bukti-bukti perbuatan
Rikhanah berupa gambar-gambar cabul dan cerita-cerita erotis yang
merangsang birahi. Dada Rif’ah semula berdebar-debar dan meras cemas
bila ada akhwat yang melihatnya namun setelah melihat suasana sepi di
ruang arsip tersebut, diam-diam Rif’ah menikmati setumpuk foto-foto
erotis dan beberapa stensilan cerita birahi yang semula milik Rikhanah
tersebut. Menikmati koleksi mesum milik Rikhanah itu, dalam beberapa
menit kemudian birahi Rif’ah mulai bergejolak secara naluriah. Nafas
akhwat PKS ini mulai tersengal dan wajahnya mulai memerah oleh birahi
yang mulai menderanya ketika matanya lekat melihat setumpuk foto-foto
erotis dan membaca cerita-cerita porno pembangkit birahi bekas milik
Rikhanah tersebut. Dengan posisi duduk di kursi, tangan Rif’ah mulai
menggosok-gosok selangkangannya hingga jubah panjang dipakainya menjadi
kusut, lantas tangan yang lainnya meremas-remas buah dadanya yang kini
telah mengencang di balik jilbab lebarnya membuat jilbab warna putih itu
ikut kusut semnetara matanya lekat menatap berbagai gambar dan cerita
erotis yang diletakkan di meja di depannya.
Tanpa
disadari Rif’ah yang tengah asyik menikmati koleksi mesum milik
Rikhanah yang disita DPD PKS, rapat divisi Faizah telah selesai. Seluruh
peserta rapat tersebut telah pulang dijemput oleh para suami mereka
kecuali Shafiyyah yang dijemput adik laki-lakinya. Setelah kantor DPD
PKS itu sepi dari akhwat, Faizah yang paling terakhir keluar dari ruang
rapat pun bermaksud pulang ke kostnya bersama Rif’ah. Akan tetapi akhwat
PKS bertubuh atletis ini tidak melihat Rif’ah sehingga Faizah yang
memegang kunci kantor DPD PKS tersebut segera mencari-cari Rif’ah. Tak
berapa lama kemudian akhwat PKS ini menemukan Rif’ah berada di ruang
Arsip.
“Ohh!”desis Faizah terkejut melihat Rif’ah.
Cerita seks Rif’ah
duduk membelakangi arah munculnya Faizah namun Faizah melihat akhwat
PKS yang cantik ini terlihat tengah merangsang dirinya sendiri. Jubah
panjang yang dipakai Rif’ah tampak tersingkap hingga ke pinggangnya
membuat kemulusan paha akhwat berkulit putih yang tampak padat dan
kencang tersebut terlihat menggiurkan, sementara tangannya terlihat
menyusup ke balik celana dalam yang dipakainya sembari menggosok-gosok.
Terdengar suara Rif’ah yang mendesah dan merintih lirih di ruangan Arsip
tersebut. Mata Faizah membelalak lebar melihat keadan Rif’ah yang tidak
pernah terbayangkan sebelumnya. Walaupun ketika semalam dia meminjam
flashdisk milik Rif’ah penuh berisi gambar dan cerita porno, namun dia
tidak menynagka kalau akhwat PKS yang selama ini terlihat alim ternyata
tak jauh beda dengan Rikhanah yang diskors oleh pengurus DPD.
Faizah
mendadak menyeringai melihat Rif’ah dan diam-diam dia menghampiri
Rif’ah yang tengah terggelam dalam birahinya dari belakang lantas kedua
tangan Faizah ini memeluk Rif’ah dari belakang.
“Lagi ngapain mbak?” tegurnya di dekat telinga Rif’ah yang masih tertutup jilbab.
‘Aww!!”pekik
Rif’ah kaget dengan tubuh terlonjak kaget. Secara refleks akhwat PKS
ini menghentikan aktivitas masturbasinya dan segera membenahi jubahnya
yang tersingkap lebar hingga ke pinggang. Wajah cantik akhwat PKS ini
merah padam dan beberapa saat dia hanya terpaku oleh rasa kaget luar
biasa dipeluk oleh Faizah dari belakang.
“Nggak
papa kok mbak….aku nggak akan lapor sama Ummu Nida atau mbak Mufidah
kok….aku paham kok..aku juga suka dnegan gambar-gambar punya mbak
Rikhanah ini…ayo terusin lagi”desis Faizah di dekat telinganya yang
membuat Rif’ah merinding.
Rif’ah
masih terdiam ketika tanpa diduganya tangan Faizah yang memeluknya
tiba-tiba meremas kedua buah dadanya membuat Rif’ah terkejut luar
biasa..
“ Mbak Rif’ah masih terangsang yah….buah dada mbak masih kenceng gini”
“Eh..Faizah…apa-apaan ini?!”protes Rif’ah pelan sambil berusaha menepis tangan Faizah.
“Jangan
protes mbak…aku tahu mbak Rif’ah punya kumpulan gambar porno dan
cerita-cerita erotis dalam flash disk punya mbak yang semalam aku
pinejm….aku janji nggak akan melaporkannya kepada Ummu Nida dan mbak
Mufidah kok…tenang aja nasib mbak Rif’ah nggak akan kayak mbak Rikhanah
kok”
Rif’ah
terdiam dan dirinya merasa aneh dengan tingkah Faizah yang tidak
diduganya ini. Akhwat PKS ini merasa meriding ketika tangan Faizah yang
memeluknya kembali meremas-remas buah dadanya dan Rif’ah mulai merasakan
nafas Faizah tersengal memburu mengenai jilbabnya seperti tengah
dilanda birahi.
“Mbak
Rif’ah masih birahi khan….ayolah nikmati saja” desis Faizah dengan
suara gemetar sementara kedua tangannya terus meremas-remas buah dada
montok di dada Rif’ah yang masih tertutup jilbab putih yang lebar.
“Faizah jangan!”desis Rif’ah dengan tegang ketika tangan Faizah kini menyusup ke balik jilbab putih lebar yang dipakainya.
“Sudahlah mbak…flashdisk punya mbak Rif’ah masih di tanganku…aku janji nggak akan melaporkan ke atas!”desis Faizah dalam.
Rif’ah
yang tidak mau nasibnya seperti Rikhanah ditambah dengan gelegak birahi
yang masih menguasainya, akhirnya pasrah ketika tangan Faizah membuka
kancing jubahnya di balik jilbab lebar yang dipakainya. Beberapa saat
kemudian tangan Faizah segera menyusup meremas buah dada milik Rif’ah
yang montok dan kencang tersebut membuat Rif’ah merasa sebuah sensasi
yang aneh dan membuatnya bingung.
“Mmm..montok
dan kenyal…aku sudah lama merindukan bisa beginian dengan mbak Rif’ah.
Mbak Rif’ah cantik, sintal selama ini selalu membuatku bergairah”
Mata
Rif’ah membelalak lebar mendengar ucapan Faizah, akhwat PKS ini tidak
menyangka bahwa akhwat berperawakan atletis dan anggota Santika adalah
seorang akhwat yang menyukai sesama jenis. Belum hilang keterkejutannya
Rif’ah merasakan tangan Faizah kemudian tidak hanya sekedar
meremas-remas buah dada miliknya namun juga memilin puting susu yang
tegang tersebut membuat tubuh akhwat PKS yang cantik ini menggeliat dan
desahnya tak mampu ditahannya meloncat dari mulutnya.
“Ahhhh..Faizah..jangaaan!”desah Rif’ah spontan.
Seumur
hidupnya baru pertamakali ini puting susunya dipilin sedemikian rupa
yang sangat membangkitkan nafsu birahinya. Namun di satu sisi dia merasa
merinding karena yang memilin puting susunya dengan lihainya adalah
seorang akhwat seperti dirinya.
“Kita ke kamar aja mbak..”bisik Faizah begitu mesra kepada Rif’ah.
Entah
kenapa Rif’ah terlihat pasrah ketika Faizah menariknya ke dalam kamar
yang terletak di sebelah ruang Arsip. Kamar tersebut adalah salah satu
kamar dari tiga kamar di kantor DPD PKS sebagai tempat istrirahat
personil atau transit tamu-tamu dari luar kota. Fasilitas dalam kamar
tersebut sangat sederhana, sekedar sebuah pembaringan lengkap dengan
bantal guling serta satu set meja dan kursi.
Dalam
kamar tersebut, Faizah tidak serta merta merebahkan Rif’ah di
pembaringan namun akhwat PKS yang cantik sekaligus seniornya di PKS itu
disandarkan di dinding kamar. Tubuh Faizah memang lebih tinggi dan lebih
besar di bandingkan tubuh Rif’ah sehingga Faizah terpaksa menundukkan
wajahnya memandang wajah cantik yang berbalut jilbab putih yang lebar
yanag kini tengah dipeluknya.
“Mbak
Rif’ah cantik….aku udah lama nungguin yang kayak gini…mbak begitu
cantik, tubuh mbak sintal..”ungkap Faizah sembari membelai wajah Rif’ah
sementara akhwat PKS yang cantik ini hanya membelalakkan kedua matanya
menatap Faizah dnegan tatapan yang sulit dimengerti. Deru nafas Faizah
yang memburu terasa hangat menampar-nampar wajahnya.
Faizah
kian mendekatkan wajahnya ke wajah Rif’ah hingga bibirnya menyentuh
bibir akhwat PKS yang cantik ini membuat tubuh Rif’ah kejang. Rif’ah
sempat melengos ketika bibir Faizah hendak melumat bibirnya, namun
dengan cepat Faizah memburunya sehingga sesaat kemudian bibir Rif’ah
yang ranum tersebut dapat dilumatnya dengan penuh nafsu. Tubuh Rif’ah
semakin kejang dan sesaat kemudian akhwat PKS ini menggelinjang ketika
lidah Faizah menyapu dan membelit lidahnya dengan lihainya. Seumur
hidupnya barukali bibirnya dilumat dengan bernafsu oleh orang lain dan
yang membuatnya terlihat bingung karena yang melumat bibirnya adalah
seorang akhwat seperti dirinya.
Faizah
tidak memperdulikan kebingungan Rif’ah karena dia mengetahui kalau
akhwat PKS seniornya yang cantik ini masih dalam keadaan birahi, ketika
tangannya yang kembali menyusup ke balik jilbab menemukan buah dada
montok Rif’ah masih mengeras kencang. Bahkan ketika tangannya menyentuh
putting susu akhwat PKS yang cantik ini, Faizah masih merasakan puting
susu tersebut terasa masih kencang sehingga membuat Faizah dengan gemas
memilinnya. Tubuh Rif’ah menggelinjang ketika kembali puting susunya
dipilin-pilin Faizah sementara bibirnya terus melumat bibir akhwat PKS
berwajah cantik ini dengan penuh birahi.
Tanpa
melepaskan pagutannya serta dengan tangan masih bermain-main di dada
Rif’ah, Faizah mendorong akhwat PKS yang cantik ini ke arah pembaringan
dan merebahkannya di atas pembaringan tersebut. Rif’ah terengah-engah
antara rasa nikmat dan kebingungan yang mencekamnya, sementara tatapan
matanya nanar menatap Faizah yang berdiri di sisi pembaringan.
“Ayo mbak..kita bermain-main. Aku dah lama pengen ginian sama mbak”ujar Faizah sambil duduk di pembaringan.
Kedua
tangan Faizah terulur ke tubuh Rif’ah lantas menyusup masuk ke balik
jubah panjang yang dipakai akhwat PKS berparas cantik ini. Rif’ah
tersentak dan secara refleks tangannya mencegah tangan Faizah namun
akhwat PKS yuniornya ini hanya tersenyum penuh arti kepadanya. Tatapan
dan senyuman Faizah itu membuat Rif’ah memahami bahaw gadis ini
mempunyai kartu turf yang kana menghancurkan kariernya di PKS sbegaiamna
Rikhanah. Akhirnya Rif’ah membiarkan tangan Faizah menggerayangi
tubuhnya di balik jubah panjang yang dipakainya.
“Tenang
mbak…..mbak tidak akan ternodai…keperawanan mbak Rif’ah tetap akan
utuh”bisik Faizah ketika tangan gadis PKS ini telah sampai di
selangkangan Rif’ah.
“Faizah….”desis
Rif’ah tegang ketika dia merasakan jemari Faizah menyusup ke balik
celana dalam yang dipakainya.Lantas jemari gadis PKS asal Jakarta ini
menyusuri belahan bibir kemaluan Rif’ah ke atas dan ketika telah
menyentuh kelentit Rif’ah, jemari Faizah seketika memilin bagian tubuh
Rif’ah yang paling sensitif tersebut.
“Ahhhh….”desah
Rif’ah menggelinjang ketika jemari Faizah memilin dan merangsang
kelentitnya dengan luar biasa. Faizah tersenyum melihat reaksi Rif’ah
dan reaksi tersebut membuatnya semakin bernafsu merangsang akhwat PKS
yang cantik ini.
Faizah
melepaskan kaus kaki krem yang membungkus kedua kaki Rif’ah dan
diletakkannya di bawah pembaringan.Satu tangan Faizah masih
mempermainkan kelentit Rif’ah sementara tangan lainnya mengelus-elus
kaki akhwat PKS yang putih mulus itu. Bahkan kemudian Faizah membungkuk
dan menciumi kaki Rif’ah dari jemarinya yang halus kemerahan terus
merayap ke atas sembari menyingkap jubah panjang yang dipakai Rif’ah.
Rif’ah
menggelinjang dan mendesah di tengah keterombang-ambingannya antara
rasa nikmat oleh rangsangan Faizah dan nalurinya yang menolak dicabuli
oleh sesama jenis. Faizah yang mempunyai kartu truf tentang kejelekan
Rif’ah membuat Rif’ah tak kuasa melawan keinginan Faizah sehingga rasa
birahilah yang akhirnya dominan terhadap diri akhwat PKS yang cantik ini
walaupun dia menyadari yang merangsangnya adalah seorang akhwat seperti
dirinya
Rif’ah
membiarkan Faizah menyingkap jubah panjang yang dipakainya hingga ke
pinggangnya. Akhwat PKS berwajah cantik ini juga hanya pasrah ketika
setelah itu Faizah kemudian menciumi dan menjilati sekujur kakinya dari
jemari kakinya lantas kedua betisnya hingga sepasang paha Rif’ah yang
padat dan kencang membuat sekujur tubuh Rif’ah dari ujung kaki hingga
pangkal pahanya basah kuyup oleh jilatan dan ciuman Faizah. Rif’ah
pasrah terhadap segala yang Faizah lakukan terhadap dirinya.
Faizah
tersenyum melihat Rif’ah yang kini dalam keadaan setengah telanjang
didepannya. Mata akhwat PKS asal Bekasi ini membulat menatap kemaluan
Rif’ah yang terlihat membukit terbungkus ketat oleh celana dalam warna
krem..
“Faizah…jangan!”desis Rif’ah tertahan ketika tangan Faizah menarik turun celana dalam krem yang dipakai akhwat PKS cantik ini.
Faizah tidak lagi menanggapi Rif’ah, ketika matanya telah melihat gundukan kemaluan Rif’ah telanjang di depannya.
Tubuh
Rif’ah tersentak ketika dengan buas Faizah membenamkan wajahnya
diantara kedua pahanya dan dalam hitungan detik, Rif’ah merasakan
kemaluanya dikunyah oleh akhwat PKS yuniornya ini.Berbagai perasaan
berkecamuk dalam diri Rif’ah namun akhirnya nafsu birahilah yang
kemudian menguasai akhwat cantik ini. Rif’ah menggelinjang jalang dengan
mulut yang mendesah dan merintih merasakan kelihaian jilatan dan
sedotan Faizah pada bagian tubuhnya yang paling rahasia tersebut. Begitu
mahirnya jilatan dan sedotan Faizah di kemaluan Rif’ah hingga membuat
pantat akhwat PKS yang cantik ini terangkat ke atas setiap kali.
Dengan
mulut masih mencumbu kemaluan Rif’ah, tangan Faizah menggerayangi
bagian dada akhwat cantik ini. Tangan akhwat hitam manis ini kembali
menyusup ke balik jubah panjang yang dipakainya melalui bagian atas
jubahnya yang telah terbuka kancingnya sejak di ruang arsip lantas
menelusup ke balik BH yang dipakai Rif’ah. Beberapa saat kemudian tangan
Faizahpun telah meremas-remas kedua payudara montok di dada Rif’ah yang
telah mengeras dan memilin-milin puting susu payuadara tersebut dengan
gemas.
“Ahhh…ahhhhh..”rintih
Rif’ah dirangsang sedemikian rupa oleh Faizah. Tubuhnya menggelinjang
jalang dan kedua tangannya meremas-remas kepala Faizah di
selangkangannya yang masih berjilbab sehingga membuat kusut jilbab yang
dipakai akhwat anggota Santika ini.
Puas
mengunyah daging kemaluan Rif’ah, Faizah beralih ke dada akhwat PKS
yang cantik ini. Jilbab lebar yang dipakai Rif’ah disingkapnya hingga ke
pundak lalu dikeluarkannya sepasang bukit montok di dada Rif’ah dari BH
yang membungkusnya hingga terpampang di depan matanya. Faizah terpesona
melihat sepasang payudara Rif’ah yang telanjang di depan matanya.
Sebelumnya dia pernah sekali tak sengaja melihat payudara telanjang
Rif’ah ketika akhwat ini berganti pakaian tapi itu hanya sesaat karena
waktu itu Rif’ah segera menutupinya. Sekarang kedua payudara akhwat
cantik ini terpampang di depannya dalam keadaan terangsang, sungguh
sebuah pemandangan yang sangat menggiurkan.
Faizah
segera menerkam menciumi dan menjilati kedua payudara Rif’ah secara
bergantian. Dkunyah-kunyahnya payudara yang putih mulus itu hingga
berbekas bilur-bilur kemerahan lantas disedotnya dan dipelintir puting
susu yang tegak kemerahan tersebut dengan gemas membuat Rif’ah semakin
jalang merintih oleh birahi yang melandanya. Tubuhnya menggelinjang liar
dan mulutnya mendesah dan merintih menahan kenikmatan yang
dirasakannya. Rif’ah tidak lagi terpikir bahwa yang merangsangnya adalah
akhwat seperti dirinya, yang ada dalam benaknya hanya kenikmatan yang
baru pertamakali dirasakannya.
“Buka
semua bajunya ya mbak…”desis Faizah puas menikmati payudara Rif’ah.
Faizah lantas turun dari pembaringan tersebut dan tanpa menunggu jawaban
Rif’ah, tangan akhwat PKS anggota Santika ini segera jilbab putih lebar
yang dipakai Rif’ah kemudian jubah panjangnya dan bh warna krem yang
dikenakannya hingga akhirnya Rif’ah telanjang bulat. Faizah benar-benar
terpesona melihat Rif’ah yang kini tergolek di pembaringan tanpa sehelai
benangpun di tubuhnya. Tubuh bugil Rif’ah begitu indah sehingga
beberapa saat Faizah terpesona memnadnag sekujur tubuh bugil Rif’ah dari
ujung rambut hingga ke ujung kakinya.
Rif’ah
membiarkan Faizah memandangi sekujur tubuhnya dari ujung kaki hingga
ujung rambutnya. Akhwat cantik ini balas memandang Faizah ketika dia
melihat Faizah kemudian juga mulai membuka pakaiannya. Pertama kali
Faizah melepas sepasang kaus kakinya disusul jilbab lebar warna hijau
yang dipakainya hingga terlihat rambutnya yang dipotong pendek seperti
polwan. Setelah itu barulah Faizah melepas jubah panjang warna coklat
yang dipakainya sehingga Faizah kini hanya terlihat memakai bh
sementara bagian bawahnya memakai celana panjang warna coklat gelap.
Rif’ah memang melihat Faizah adalah seoarang akhwat yang berotot bahkan
payudaranya pun tergolong kecil.
Tanpa
memperdulikan pandangan Rif’ah, Faizah melepas BH yang membungkus buah
dadanya lalu celana panjang yang menutup bagian tubuhnya juga dilepas.
Faizah ternyata tidak memakai celana dalam sehingga ketika celana
panjang itu terlepas dari tubuhnya, Faizahpun bugil seperti Rif’ah.
Rif’ah ternganga melihat tubuh Faizah bugil di depannya saat ini karena
baru pertamakali ini dia melihat Faizah dalam keadaan bugil tanpa
selembar benangpun di tubuhnya. Tubuh akhwat PKS yang satu ini memang
terlihat perkasa walaupun di dadanya tumbuh sepasang payudara berukuran
32 dengan puting susu coklat gelap serta kemaluannya adalah kemaluan
wanita, apalagi kulitnya yang coklat mengesankan keperkasaannya. Satu
hal yang tak diduga Rif’ah sebelumnya, ternyata Faizah mempunyai
kemaluan dengan rambut yang lebat sehingga sebagian kemaluan Faizah yang
cukup montok membukit itu tertutupi oleh lebatnya rambut kemaluannya.
Cerita seks Rif’ah
tak sempat memikirkan lebatnya rambut kemaluan Faizah yang lebat
tersebut lebih lama, karena Faizah segera naik ke pembaringan dan segera
menindihnya. Sesaat Rif’ah sempat tersadar kalau yang mencumbunya
adalah seorang wanita seperti dirinya, namun kesadaran itu tak sempat
menguasainya Faizah segera merangsangnya kembali membuat Rif’ah kembali
tenggelam dalam birahi. Dengan liar Faizah mencumbu Rif’ah, melumat
bibir sensual Rif’ah, mengesekkan payudaranya dengan payudara Rif’ah,
menempelkan bibir kemaluanya dengan bibir kemaluan Rif’ah lantas
menggesek-gesekkannya. Deru nafas, desahan dan rintihan kenikmatan kedua
gadis yang tenggelam birahi itu seakan tak putus terdengar disela-sela
suara beradunya dua tubuh yang saling membelit. Rif’ah yang semula
adalah akhwat PKS alim dan jauh dari perbuatan-perbuatan mesum larut
dalam kenikmatan dan sensasi birahi yang dibawa Faizah.
Persetubuhan
kedua gadis ini berakhir lewat dini hari. Rif’ah dan Faizah terkapar
lemas di pembaringan. Tubuh bugil kedua gadis ini penuh dengan
bilur-bilur warna merah bekas gigitan mereka masing-masing terutama
tubuh Rif’ah yang berkulit putih mulus.
“Pulang sekarang atau besok pagi mbak?” tanya Faizah dengan nafas yang masih memburu satu-satu.
“Terserah Faizah aja, khan Faizah yang bawa motornya” jawab Rif’ah.
“Ya
udah..besok pagi aja…kita tidur aja mbak..capek… berpelukan
mbak..dingin” ujar Faizah sambil memeluk tubuh Rif’ah yang masih bugil
dengan mesra, kemudian dengan kakinya Faizah menarik selimut yang ada
diujung pembaringan untuk menutupi mereka berdua.
Keesokan
paginya ketika matahari telah terbit, sebuah sepeda motor yang dinaiki
dua gadis berjilbab lebar yang tak lain Faizah dan Rif’ah terlihat
keluar meninggalkan rumah yang dijadikan kantor DPD PKS.
“Mbak Rif’ah mau ke kampus atau ke kost dulu?”tanya Faizah
“Ke kost dulu aja…”jawab Rif’ah datar seakan tak bergairah membuat Faizah mengerutkan keningnya
Pikiran
akhwat PKS ini masih terbayang kejadian semalam. Dia serasa masih belum
percaya kalau semalam dia telah melakukan persetubuhan dengan Faizah.
Berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya antara perasaan merasa
bersalah namun ternyata semalam dia sengat menikmati persetubuhan dnegan
Faizah.
Faizah
dapat merasakan kalau Rif’ah masih terguncang dengan kejadian semalam.
Faizah bisa mengerti karena ketika pertamakali dia mengenal dunia
lesbian juga terguncang sebelum akhirnya kecanduan. Faizah menyadari
perbuatannya adalah perbuatan terlarang ketika dia ikut PKS dan dia
berusah menghilangkannya namun hasratnya ternyata sulit dibendung ketika
melihat kecantikan dan tubuh Rif’ah, akhwat seniornya di PKS yang di
matanya mungkin bernilai 8. Tanpa diduganya, Rif’ah ternyata mudah
sekali untuk dbawa bercinta seperti tadi malam. Betul-betul akhwat yang
polos dalam masalah seks.
Hampir
satu bulan sudah sejak peristiwa di DPD, Rif’ah masih terombang-ambing
namun akhwat cantik ini tidak dapat menolak ketika Faizah tidur di
kamarnya kemudian mengajaknya bercinta semalam suntuk. Seluruh akhwat
penghuni kost itu tidak menaruh curiga apapun walaupun hampir tiap malam
Faizah tidur di kamar Rif’ah karena mereka memang sama-sama perempuan.
Mereka hanya melihat kedua akhwat itu kini semakin akrab sampai kemudian
kedua akhwat itu datang pada sebuah kajian yang membahas mengenai
fenomena lesbian. Saat itu wajah Rif’ah tersadar dengan kekeliruannya
selama ini. Wajah akahwat cantik ini merah padam mendengar isi kajian
yang mengutuk perilaku lesbian sementara Faizah cenderung untuk tidak
mendengarkannya.
Sepulangnya
dari kajian itu, Rif’ah mulai menjaga jarak dengan Faizah. Faizah yang
merasa Rif’ah mulai berubah, berusaha menekan Rif’ah agar tidak
meninggalkannya. Faizah sangat bernafsu kepada Rif’ah, akhwat cantik
dnegan bau kemaluannya yang segar dan wangi dan dia tidak rela harus
putus hubungan dnegan Rif’ah. Akhirnya Faizah harus melakukan ancaman
fisik terlebih dahulu sebelum melampiaskan nafsunya kepada Rif’ah.
Rif’ah sebagai seorang akhwat yang lembut dan lemah tak mampu melawan
ancaman Faizah sehingga dengan terpaksa dia melayani nafsu Faizah yang
menyimpang dari kodratnya.
Tak
sampai setengah bulan kemudian, Rif’ah merasa tidak tahan terhadap
paksaan Faizah untuk melayani nafsu seksualnya, sehingga akhwat ini
berencana pindah kost. Rupanya Faizah mencium rencana Rif’ah pindah kost
sehingga akhwat hitam manis ini menekannya agar tidak meninggalkan
kost.Rif’ah yang ketakutan dengan ancaman Faizah akhirnya meminta
perlindungan kepada Ummu Nida, mantan Kabid Kewanitaan DPD PKS yang kini
duduk di DPW tingkat propinsi. Di matanya Ummu Nida adalah seorang
ummahat yang keras, tegas dan berani. Ummahat berusia 30an dan telah
mempunyai tiga anak itu memang pantas menjadi pemimpin akhwat PKS.
Secara fisik Ummu Nida adalah seorang ummahat yang bertubuh besar
padahal suaminya bertubuh kurus.
Sore
itu sepulangnya dari kampus, Rif’ah tidak pulang ke kostnya namun pergi
ke tempat Ummu Nida di sebuah perumahan di pinggiran kota. Akhwat ini
bertekad untuk menceritakan semua yang telah dilakukannya bersama Faizah
sekaligus minta perlindungan dari paksaan Faizah kepadanya. Sesampainya
di rumah Ummu Nida, Rif’ah heran ketika melihat beberapa sepeda motor
yang terparkir di rumah tersebut. Dilihatnya Abu Nida, suami Ummu Nida
sedang duduk di teras bersama anak mereka yang terkecil yang baru
berusia 2 tahun.
Setelah salam, Rif’ah menanyakan Ummu Nida kepada Abu Nida’
“Masuk aja….lagi pada senam di halaman belakang”
Senam? Kening Rif’ah berkerenyit heran. Namun tak bertanya-tanya lagi,
akhwat PKS ini masuk ke rumah langsung ke halaman belakang. Sesampainya
di halaman belakang, Rif’ah tertegun rupanya senam itu telah selesai
ketika dia melihat Ummu Nida dan kurang lebih 15 wanita berpakaian sneam
yang sexy terlihat duduk kelelahan. Rif’ah terlihat kaget melihat Ummu
Nida dan lainnya memakai baju senam yang sexy itu. Rif’ah hampir tidak
mengenali para ummahat yang yang memakai pakaian senam yang sexy karena
sebelumnya Rif’ah melihat mereka dengan jilbab lebar dan jubah panjang.
Kemunculan Rif’ah langsung disambut hangat oleh Ummu Nida dan beberapa
ummahat lainnya yang mengenalnya.
“Ooo dik Rif’ah….bunga tercantik di PKS datang berkunjung!” seloroh Ummu Nida membuat Rif’ah tersipu-sipu.
Rif’ah kemudian bersalaman dengan seluruh ummahat sambil saling menempelkan pipi.
“Senam apaan mbak?” tanya Rif’ah.
“Senam
Ummahat, kalau anti sih nggak perlu, tubuh anti khan masih sexy dan
sintal nah kalo kami-kami yang sudah punya anak ini ya harus berupaya
agar tubuh-tubuh kami tetap sintal dan menggiurkan bagi suami…”jawab
Ummu Nida.
“Ah..bisa
aja..tubuh mbak juga sintal dan montok” balas Rif’ah sambil memandang
sekujur tubuh Ummu Nida yang masih berbalut pakian senam yang ketat.
Ummu
Nida memang mempunyai tubuh yang sintal dan montok. Walaupun sudah
mempunyai tiga anak, perutnya terlihat rata. Buah dadanya montok mungkin
berukuran sekitar 36 dengan pantat yang bahenol. Wanita berkulit kuning
langsat yang masih terlihat kencang ini mempunyai wajah yang cukup
cantik walaupun sudah tidak terlihat muda lagi. Rif’ah perkirakan usia
Ummu Nida sekitar 33 tahun.
Melihat
Ummu Nida, Rif’ah teringat Faizah. Rif’ah bisa membayangkan reaksi
Faizah bila melihat Ummu Nida dalam balutan pakaian senam seperti sore
ini.
“Nunggu dulu yah…pada mau kemas-kemas” ujar Ummu Nida yang dijawab anggukan Rif’ah.
Rif’ah
melihat kesibukan Ummu Nida dan ummahat lainnya yang berkemas-kemas.
Rif’ah memang baru tahu kalo ada senam Ummahat seperti ini jadi memang
bukan isapan jempol kalau ada berita bahwa kebanyakan ummahat PKS
mempunyai tubuh yang sintal dan bahenol. Dalam waktu beberapa menit
kemudian para ummhat PKS yang semula masih berbalut pakaian senam kini
kembali terlihat dengan jubah panjang dan jilbab lebar. Melihat ummahat
tersebut kembali memakai pakaian tersebut, Rif’ah baru mengenali dengan
jelas satu persatu ummahat yang datang dan rupanya banyak ummahat yang
dikenalnya.
“Itu
guru senamnya?”tanya Rif’ah kepada Ummu Nida ketika melihat seorang
wanita yang tidak berjilbab terlihat sexy dengan jeans dan kaos ketat.
“Ya…namanya Venny..guru senam di sanggar senam dekat kantor DPW. Kita sewa untuk melatih kita” jawab Ummu Nida.
Tak lama kemudian rumah Ummu Nida pun kembali sepi, setelah satu persatu ummahat itu pulang ke rumah mereka.
“Ada apa dik, kelihatan banyak masalah..jadi nginep khan seperti dalam sms tadi?”tanya Ummu Nida
Rif’ah mengangguk
“Nanti malam ya mbak….Rif’ah capek banget”
Ummu Nida mengangguk mengerti, lalu diantarkannya gadis ini ke kamar yang disiapkan.
“Nida
dan Yasmin lagi liburan di rumah neneknya, jadi dik Rif’ah bisa tidur
di kamar ini” kata Ummu Nida sambil mengantarkan gadis ini ke kamar
kedua anaknya. Rif’ah mengangguk dan baru mengerti kenapa sejak tadi
tidak melihat Nida dan Yasmin dan hanya melihat anak terkecil Ummu Nida
yang digendong Abu Nida di teras.
“Makasih mbak” kata Rif’ah.
Malam
harinya, Ummu Nida terkejut luar biasa mendengar penuturan Rif’ah
mengenai hubungannya dengan Faizah namun Rif’ah tidak menceritakan kalau
dia juga menikmati hubungan sesama jenis tersebut. Wajah Ummu Nida
merah padam mendengar penuturan Rif’ah yang menuturkan sambil terisak.
“Rif’ah menyesal mbak….tapi Faizah terus mengancam dan menekan. Rif’ah tidak berani”
“Kalau
begitu Faizah harus keluar dari kost akhwat tersebut, dia berbahaya
buat akhwat PKS lainnya baru sabuk hijau saja sudah banyak tingkah” ujar
Ummu Nida tampak geram. Rif’ah memang mendengar kalau Ummu Nida sebelum
menjadi akhwat adalah mantan atlit karateka propinsi dan sudah sampai
sabuk hitam, tapi dia tidak mengerti masalah sabuk-sabuk tersebut
sehingag dia tidak tahu maksud ucapan Ummu Nida.
“Sekarang dik Rif’ah istirahat dulu aja…nggak papa. Biar mbak yang bereskan Faizah itu” desis Ummu Nida mirip perintah.
Mendengar ucapan Ummu Nida itu, Rif’ah pun segera pamit ke kamar yang terletak di sebelah kamar Ummu Nida dan suaminya..
Di
kamar tempat dia berbaring itu, Rif’ah gelisah. Ada sedikit rasa
penyesalan menceritakan masalahnya kepada Ummu Nida, khawatir menjadi
konsusmi public di kalangan akhwat PKS namun kemudian penyesalan itu
ditepisnya karena dia yakin Ummu Nida akan bertindak yang terbaik
untuknya. Apalagi setelah Rif’ah masuk ke kamar, dia mendengar
pembicaraan Ummu Nida dan suaminya berkisar masalah Faizah bukan
dirinya. Namun kelelahan yang mencengkamnya membuat Rif’ah tak lama
mendengar pembicaraan itu karena kemudian dia tertidur pulas.
Tengah
malam Rif’ah terbangun ketika dia mendengar suara canda dan
ketawa-ketawa dari kamar sebelahnya yang tak lain adalah kamar Ummu Nida
dan suaminya. Rif’ah memahami sehingga diapun kembali berusaha tertidur
namun ternyata suara-usra itu kemudian mengganggunya sehingga
membuatnya sulit tertidur apalagi setelah terdengar suara-suara aneh
dari kamar tersebut di sela-sela canda suami istri tersebut. Suara
tersebut membuat Rif’ah gelisah dan benaknya tanpa sadar membayangkan
apa yang tengah terjadi di kamar sebelah antara Ummu Nida dan suaminya.
Bayangan tersebut terhenti ketika kemudian Rif’ah merasa ingin buang air
kecil.
Cerita seks Dengan
hati-hati dan pelan, Rif’ah keluar kamar menuju ke WC. Suasana ruangan
di luar kamar remang-remang karena lampu di ruangan tersebut telah
dimatikan dan Rif’ah tidak tahu tempat saklar lampu. Namun cahaya lampu
dapur yang dibiarkan menyala membantu Rif’ah berhasil sampai ke WC.
Setelah menuntaskan hajatnya, Rif’ah segera kembali ke kamarnya. Ketika
Rif’ah hendak membuka pintu kamar tempat dia tidur, terdengar kembali
suara-suara dari kamar Ummu Nida. Suara ketawa, dengusan dan suara-suara
aneh membuat Rif’ah berdebar-debar. Tanpa sadar benak Rif’ah teringat
film porno yang ditontonnya di warnet beberapa waktu yang lalu. Dada
akhwat PKS ini berdegup kencang ketika kemudian matanya melihat seberkas
sinar keluar dari lubang kunci pintu kamar Ummu Nida. Rif’ah
mengurungkan niatnya masuk ke kamar, akhwat PKS ini justru menempelkan
matanya ke lubang kunci tersebut dan sedetik kemudian bola mata Rif’ah
membelalak lebar melihat pemandangan yang dilihatnya melalui lubang
kunci tersebut. Tubuh gadis cantik ini gemetar
www.ceritasexsualpanas.blogspot.com Baca kisah selanjutnya disini RIFA 2 – Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Mesum Ngentot –

Tidak ada komentar:
Posting Komentar